LAKE CHAPTER 37 – THE LAST PERSON STANDING (PART 1)

Lake
Penulis: Mie Rebus
Dear Elka,
Kalo lu baca surat ini, bisa jadi, gw udah pergi selamanya. Masih terlampau banyak waktu yang pengen gw habiskan bareng lu. Tapi apa daya, gw ga dikasih kesempatan lebih lama buat tetap bernapas. Tolong rawat barang-barang peninggalan gw ya. Jangan sampe ada yang ketinggalan begitu ada penghuni baru yang gantikan gw di mesh. Maap, gw ga bisa menepati janji untuk terus berada di sisi lu.
Oh ya, titip salam buat si Kuya, bilang dia, makasih udah menerima diri gw apa adanya…
“… Blablabla.. Blablabla … Salam hangat, Lake Grymnsytre.” Suara Elka terdengar lagi mendikte tulisan yang gw buat sepenuh hati. “Apaan nih? Ngapain lu tulis surat? Gw kan di sini.”
Gw duduk bersila di lantai ruangan Dzofi dirawat, ambil secarik kertas, minta pulpen ke petugas medis dan mulai merangkai kata sejak beberapa menit lalu. Elka penasaran dengan apa yang mau gw lakukan. Jadi dia berlutut, dan baca surat itu dari balik bahu gw.
“Kayak yang lu baca, ini wasiat. Jaga-jaga, kalo … ehem … gw keluar dari arena dalam keadaan … ga utuh dan gosong.” Jawab gw memperjelas.
Yaiyalah! Wajar kalo merasa ajal makin dekat pas lu harus berdiri di satu arena bareng prajurit-prajurit gila!
“Astaga, lebay amat sih. Lu ga bakal kenapa-napa,” sanggah Si Infiltrator berambut coklat sambil bangkit dari posisi berlutut, “lagian, apa juga yang mau lu tinggalkan? Lu kan ga punya barang berharga.”
“Heyy! Gw punya!”
“… Kalo yang lu maksud berharga itu tumpukan komik bekas yang dibeli di pojok terminal, gw ga akan segan buat menolak.” Ledeknya.
ini anak, pandai betul keluarkan kata-kata sakti buat menusuk hati orang yak. Heran gw.
Sabilla masih ada di ruangan, masih menemani Dzofi yang udah menerima perawatan luka bakar tingkat menengah. Mereka perhatikan gelagat kami sejak gw mulai duduk bersila.
“Hahaha, lu berdua kayak bukan calon lawan aja dah.” Celetuk Si Armor Rider, “Kocak liatnya.”
“Hihi … setuju.” Timpal Sabilla.
“Yaaa, gw akan menikmati saat-saat damai ini … selagi masih bisa.” Balas gw, melirik nyindir pada Elka yang ikutan menyeringai.
Sehabis berdiri, gw ambil langkah menuju pintu keluar sambil lipat secarik kertas di tangan.
“Sabilla, Dzofi, duluan ya.” Kata Elka.
“Lake!” Dan gw terhenti pas Dzofi memanggil. Alhasil, jadi balik badan lagi. “Jangan lupa, menang buat gw juga!”
“… Ahha, gw akan coba semaksimal mungkin.” Sebenarnya, gw ga punya keyakinan terhadap janji yang udah terucap. Tapi, tentu sebuah janji adalah hutang yang wajib dilunasi. Makanya, gw menolak buat mundur kali ini.
Setelah keluar dari ruangan tempat Dzofi dirawat, kami masih jalan beriringan menuju ruang ganti. Mikirin perkataan Dzofi tadi, mungkin bagi orang lain ini aneh. Kita bakal berhadapan nanti di arena, tapi malah kayak ga ada apa-apa yang jadi penghalang buat sekedar bercengkrama, atau bercanda.
Soalnya bagi gw, Elka tetap Elka. Semenakutkan apapun orang bilang tentang lulusan terbaik Ranger Corps, gw ga bakal bisa anggap dia sebagai musuh. Lagian, ini cuma Festival Olahraga, kan? Persaingan bukan berarti bikin kita jadi musuhan.
“… Jadi, lu mau pake pedang?” Tanya Elka selagi jalan. “Emang tangan lu udah sembuh?”
“Harus dipaksakan. Gw harus keluarkan kemampuan lebih dari terbaik kalo mau kalahkan lu pada.” Jawab gw sembari regangkan jemari tangan kiri beberapa kali. Masih timbul rasa nyeri.
Dengar kalimat barusan, Elka berhenti. “Coba yang terbaik sih boleh, asal jangan terlalu maksa.”
Langkah gw ikutan berhenti, dan menoleh sedikit ke belakang padanya. “Iya, iya. Udah ratusan kali lu bilang begitu.”
“Takutnya lu lupa.” Abis itu dia jalan lagi.
“Oh ya, Ka…” belum 4 langkah, gw teringat sesuatu. “… ada satu hal yang mau gw minta,” Elka menghadap gw yang belum beranjak. Menunggu hal apa yang bakal dia dengar, “di arena nanti … tolong, jangan lindungi gw. Apapun yang terjadi,” raut muka gw serius mengucap kalimat, “gw benci itu.”
Di dalam hati, ada keinginan buat sekali ini aja berjuang tanpa bantuan darinya. Untuk sekali lagi berhadapan dengan Rokai secara langsung, dan mengalahkan dia dengan segala yang gw punya. Kalahkan orang hebat yang bilang mau makan gw, prajurit yang jelas beda kasta, hidup-hidup.
Gw udah paham dan beberapa kali rasakan secara langsung, sehebat apa dokter sinting itu, dan gimana dia ga pernah tanggung-tanggung pas bertarung. Gimana dia suka napsu, serta gampang terbawa suasana.
Semua ketegangan dan luapan emosi tersebut pengen gw balikin mentah-mentah, langsung ke muka orangnya! Juga untuk kalahkan rasa takut yang sempat menghampiri pas dia memojokkan gw.
Elka terperanjat. Sepasang mata coklat itu melebar, menatap ga percaya begitu dengar apa yang gw bilang, “Benci … ya? … Maaf, gw ga tau lu segitu ga sukanya kalo gw melindungi lu,” katanya dengan nada lesu, “gw tau. Karena malu-maluin, kan? Sebagai seorang lelaki, yang terus ditolong perempuan? Gw ga pernah sadar akan hal itu, sampe detik dimana kata-kata tadi terucap. Gw ga pernah mikir apa yang lu rasakan,” tatapannya jadi agak menunduk, lalu membentak ke lantai, “… Tapi gw ga bisa, Lake! Lu mau benci, oke, bencilah! Gw ga bisa! Maaf kalo lu harus malu, gw cuma ga bisa liat bahaya mengancam nyawa lu!”
Etdah, kenapa jadi ngegas gini?
Keras bentakan itu masuk ke sepasang telinga. Dengan cepat gw mendekat dan adu jidat tiba-tiba. Hancurkan keadaan yang mendadak jadi intens.
Elka sedikit kaget, seraya tutupi dahi sendiri pake kedua telapak tangan. Melenguh, “A-aw!”
“Lu ngomong apa sih?” Tanya gw heran, alis kelabu terangkat sebelah. Dia angkat wajah, masih pegang jidat sambil balik memandang ga kalah penuh tanda tanya, “Bukan itu. Gw ga pernah keberatan terima perlindungan dari lu, dan gw ga anggap itu sebagai hal memalukan. Gw benci itu, soalnya siapa yang tau? Satu saat, itu bisa menyakiti lu, Elka. Dan kalo sampe sesuatu yang buruk terjadi pada lu gegara menerjang bahaya demi keselematan gw…” kumpulkan segenap perasaan, dan coba menyusunnya jadi sebuah untaian kata bermakna jelas, “… gw ga bakal bisa maapkan diri sendiri.”
Ucapan gw meluncur seadanya, namun diikuti harapan, semoga terpatri di benak perempuan ini. Kita berdua sebenarnya sama. Saling butuh. Dan keinginan untuk selalu saling menjaga, ga bisa disangkal. Kalo dia pernah bilang ga mau ditinggal sendirian, gw akan bilang, ga sanggup liat dia berkorban begitu banyak.
Elka terhenyak sebentar, kemudian lempar senyuman. Ada rona merah timbul di mukanya, “… Ampun deh,” sembari berapa kali usap dahi sendiri, “bilang kalimat barusan buat perempuan tanpa ragu. Pake muka kayak gitu … pantas si rambut hijau suka sama lu.”
“Muka ‘kayak gitu’?” Emang gw melakukan hal istimewa dengan muka begini? “Kayak gimana?”
“Kayak tunjukkan kasih sayang, kepedulian, dan rela dahulukan wanita lebih dari apapun.”
Wuut? Ga salah ini anak? Kesambet setan apaan sampe topiknya nyerempet ginian? “Ahha. Kalo bukan gw, siapa lagi yang sayang lu? Sampe rela kamar gw diterobos terus-terusan.”
“… Ya, benar juga,” sekali lagi dia tersenyum lembut. Bikin gw ikutan senyum juga. “Rokai ada di level mematikan, dan berpotensi jadi sangat destruktif. Selama lu bisa bertahan dan melawan, gw ga akan melakukan apapun, tapi…” Raut wajah Elka seketika berubah tajam, “… Kalo dia sampe kelewat batas, gw ga akan punya pilihan selain ganggu ‘kencan’ lu. Okey?”
“Oke,” sekali anggukan kepala penuh keyakinan gw beri. Tapi… ugh… Sumpah! Kalimat terakhir terdengar gay di telinga gw, “ga usah pake omongan yang aneh-aneh kenapa! Ambigu tau!” Omel gw terhadap perkataannya.
Dia ketawa kecil dan melangkah lebih cepat sambil tutupi kedua telinganya, tinggalkan gw di belakang, “Ga dengar, Lalalalala~”
Beuh, suwe. Coba aja kalo kelakuan lu kayak gitu terus, kan jadi ga bikin orang panik di lapangan.
Sepeninggal Elka, gw ditegur oleh seorang lelaki, “Ah, Lake. Ngapain di situ sendirian?”
Gw menoleh untuk liat sosok yang menegur. Pria berambut burgundy, lagi asik makan coklat batangan. Di balik punggungnya, kayak biasa, ada perempuan berambut pink dikuncir dua.
“Tadinya sih ga sendirian, tapi ditinggal teman, Royal.” Ujar gw, lalu beralih menyapa Meinhalom, “Hai Mein.”
Ga ada kata terucap dari bibir si Wizard. Dia merespon dengan senyum kecil dan anggukan kepala.
Oritzi mematahkan satu petak dari batang coklat, masukkan ke mulut, lalu menawari gw sisanya, “Mau?”
“Uhm … ga usah, Royal,” tolak gw halus.
“Hmm, beneran? Coklat enak lho ini.”
Uh … mau seenak apa kek, mana bisa gw makan? “Ahha, beneran. Tapi makasih udah nawarin.”
“Baiklah kalo begitu.” Gw perhatikan mereka, Si Armor Rider menghadap badan pada Meinhalom, “Kamu mau lagi gak?” Si Wizard berambut pink mengangguk-angguk. Lucu deh mukanya, kayak anak kecil. Keliatannya dia udah lebih baik, ga kayak tadi di arena, gemetar dan gelisah
“Royal Oritzi,” Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, gw bertanya, “… tadi, kenapa? Kenapa mendadak anda mundur sebelum duel dimulai?”
Armor Rider senior menatap mata gw, dan menghela napas sebelum menjawab. Dengan senyuman, dia berkata, seraya kembali menoleh pada Meinhalom. “Karena Mein menolak untuk lawan saya.”
Gw sedikit terhenyak, “Hah?“
“Dia ga mau melawan saya apapun yang terjadi. Dan saya ga akan biarkan dia mundur karena hal itu.” Oritzi menjelaskan lebih jauh, “Tanpa MAU, ga mungkin saya menang dari Mein. Dia lebih pantas melaju ke babak berikut. Makanya, lebih baik saya aja yang mundur.”
Ternyata itu penyebabnya. Meinhalom menolak melempar mantra pada orang terdekat selama ini. Bukan karena Oritzi yang penonton bilang ‘ampas’. Dia melakukannya demi Meinhalom juga. Entah apa yang ada di pikiran Si Wizard, sampe segelisah itu pas tadi di arena. Apa mungkin dia takut akan potensi skenario terburuk bisa terjadi?
Gw masih ingat, cerita Almarhum Ulkatoruk yang menderita luka bakar hebat, membekas di sekujur dada sampe leher abis sparing dengan Meinhalom. Cuma sekedar asumsi gw sih, tapi barangkali, dia khawatir kejadian yang sama terulang lagi pada Oritzi.
Tanpa sadar, mata gw perlahan tertuju padanya. Dia sadar akan hal itu, dan balik melihat. Ga diduga, Meinhalom mendekat, dan ragu-ragu menjulurkan tangan kanan. “Nanti … berjuang, bersama. Ya … L-La … L-L … Lake … ?”
Gw cengo, ga tau kenapa. Terpaku liat uluran tangan mungil perempuan berambut pink. Dia masih terbata menyebut nama gw dan menunggu balasan uluran tangannya. Tapi karena gw diam rada lama, dia salah tingkah.
Cegah rasa canggung, tangan kanan gw menyambut tangannya. Dan begitu kulit kami bergesekan, terasa suhu yang lebih panas memancar dari balik tangan itu. Bukan panas yang sampe bikin gw kelojotan dan melepuh pas dibawa terbang olehnya, lebih tepat kalo disebut hangat.
Ga bisa dipercaya emang. Mikirin gimana tangan mungil ini yang jadi penyelamat gw di raungan pertama. Begitu kuat menahan panas dari api yang kerap melahap sekujur lengan.
Ya, benar. Selain Rokai dan Elka, Meinhalom pun termasuk dalam kategori merepotkan.
Gw membalas ucapannya, “Pastinya!”
“Selamat berjuang! Saya doakan, semoga kalian berdua dapat hasil terbaik.” Oritzi melingkarkan lengan kiri dan kanan di bahu kami, dan mendekatkan kami dalam dekapnya.
.
.
…Arena Serbaguna, Ruang VVIP…
Ruang VVIP yang ditempati Archon Croiss dan kedua wakilnya, kedatangan tamu ga terduga. Pintu mekanik tersebut terbuka selagi mereka bertiga tengah berbincang. Otomatis, hal itu mengalihkan perhatian Kirxix bersaudara dan Gatan. Ketiganya langsung berdiri dari sofa begitu liat sosok berambut cepak magenta, dengan luka bakar di sekitar mata kiri sampai leher melangkah masuk ruangan.
“Maximus Khortenio.” Sapa Croiss, sambil sedikit menundukkan kepala. Menunjukkan rasa hormat sebagai sesama prajurit.
Ga ketinggalan, diikuti juga oleh kedua Wakil Archon, Gatan dan Izcatzin secara serempak. “Maximus.”
Pria itu jalan menuju Croiss, menepuk bahu Si Berserker dan bilang, “Ga perlu kaku begitu, toh jabatan kalian kan diatas saya.”
“Tapi anda tetap senior kami, Maximus.” Balas Croiss, mengangkat wajahnya dan tersenyum.
“Hah! Ya sudah. Kalo emang itu yang kalian mau.” Jawab Khortenio santai. “Kalian punya spot yang enak betul di sini.” Mental Smith berambut Magenta, menelusuri seisi ruangan VVIP yang emang didesain senyaman mungkin untuk kepentingan petinggi Federasi.
“Anda dipersilakan untuk gabung bersama kami kapanpun.” Ujar satu-satunya wanita di ruangan ini.
“Hahaha, terima kasih. Tapi saya lebih suka kantor Komandan Sains dan Teknologi yang berantakan plus bau oli.” Khortenio melempar candaan, berbalas tawa kecil dari ketiga lawan bicara. “Oh ya, semoga kalian ga keberatan kalo saya pinjam Gatan sebentar.”
Sejenak mereka bertiga bertukar pandang, penasaran atas tujuan Khortenio datang ke ruangan VVIP. Mereka berspekulasi, mungkin ada suatu hal menyangkut kepentingan Federasi, “Apa ada hal penting yang perlu kami ketahui?”
“Ah, enggak sama sekali. Cuma mau berbincang aja dengan kawan lama.”
Mendengar jawaban itu, Croiss dan Izcatzin menoleh pada Gatan. Sentinel berambut spike biru kehitaman balik menatap mereka, terus mengangkat kedua bahu. “Tentu. Saya ga keberatan.”
“Mari bicara di luar, Bapak Wakil Archon.” Goda Khortenio.
“Ahaha, tolong jangan begitu! Serius!”
Selagi Gatan dan Khortenio keluar dari ruangan, Izcatzin dan Croiss memandang kedua pria tersebut sampai tubuh mereka terhalang pintu mekanik yang menutup sendiri.
…
“Jadi, mau ngobrol apa kita?” Tanya Gatan ketika berjalan di samping Khortenio.
Kedua kawan lama itu menuju stand penjual kopi, agar lebih santai berbincang lebih lama. Stand sederhana dengan beberapa meja serta kursi.
“Hmm? Entah. Ngobrol apa yang enak?” Pria paruh baya berambut cepak Magenta balik nanya.
“Haha, ayolah. Saya tau, pasti tentang anak itu.” Tebak Gatan asal tapi sok yakin. “Buat apa lagi anda tetiba menarik saya keluar saat festival masih berlangsung?”
“Tajam seperti biasanya, Gatan.” Khortenio menyindir. Soalnya tebakan asal Gatan ternyata tepat sasaran. “Saya nonton apa yang udah dia lakukan sejauh ini.”
Ketika mereka menemukan meja kosong dan duduk di sana, pelayan langsung menghampiri. Gatan memesan kopi hitam setengah cangkir, pake gula seujung sendok. Sebenarnya, dia lebih memilih untuk pesan bir bila ada. Sayang, stand ini ga menyediakan bir.
Dan untuk Khortenio, segelas air hangat.
“Lalu, menurut anda?”
Khortenio mengutarakan pendapat dari dalam hati, “Jujur, saya ga nyangka dia bisa sampe acara puncak.”
Senyum tersimpul dari bibir Gatan, “Bukan cuma anda yang merasa begitu.”
“Tapi dia ga buruk pas pake pedang yang kutempa … untukmu.” penekanan intonasi pada kata tertentu, mengindikasikan kalo untuk kesekian kalinya, Gatan disindir oleh Komandan Divisi Sains dan Teknologi.
“Masalah itu lagi?” Si Sentinel keliatan terhenyak dan memutar bola mata. “Anda menempa pedang itu untuk saya, hak milik bukan di anda lagi. Bebas dong, mau saya apakan aja.”
“Hey, hey, saya ga mempertanyakan keputusanmu.”
Di tengah adu argumen singkat mereka, pelayan datang membawa pesanan. Setengah cangkir kopi dengan gula seujung sendok, dan segelas air hangat. Pesanan yang aneh, emang. Tapi pembeli itu raja, bebas request sesuai keinginan selama tersedia.
“Udah ga minum kopi lagi nih?” Tanya Gatan penasaran, melihat gelas berisi air hangat di depan Khortenio. Karena seingat Gatan, pria paruh baya ini, kecanduan kopi.
“Kopi sama sekali ga bagus untuk umuran saya, dan ga ada minuman yang lebih menyehatkan dari air mineral.” Jelas Khortenio, sembari menenggak sedikit air hangat, “Kamu juga, harusnya mulai kurangi minum bir atau apalah yang aneh-aneh.”
“Hahaha, nanti saya pertimbangkan … pas udah seumuran anda.”
Mereka berbalas kelakar sedikit lebih lama lagi, berasa udah lama banget ga ketemu dan bicara 4 mata.
“… Kamu tau, saya pikir dari awal dia lebih mirip Ayahnya. Ternyata, salah besar.” Usai berapa menit, Khortenio kembali ke topik awal. “Dia dan Actassi sama sekali berbeda.”
“Bagai dua sisi dari sebuah koin?” Gatan menyelidik.
“Ha, dua sisi dari dua buah koin.” Tegas Khortenio. “Tapi agak mewarisi kegilaan Ibunya sih. Benar-benar kombinasi yang aneh dari mereka berdua.”
“Setuju. Selain dari rambut kelabu, dia emang beda banget dengan Ayahnya.” Ujar Gatan membenarkan.
Si Mental Smith menukas, usai menyeruput air hangat, “Ketimbang Actassi, dia lebih mirip denganmu, Gatan.”
Wakil Archon terdiam sambil sedikit tersenyum, ada juga yang sadar hal itu selain dirinya sendiri, “Itulah alasan saya melatihnya dan mewariskan pedang pemberian anda.” Kata Gatan, mata biru gelap tertuju pada mata Khortenio. “… saya seperti liat diri saya yang dulu dalam dirinya.”
“Anak itu jelas kagum padamu, dan menganggap kamu panutan. Karena dia ga punya siapa-siapa lagi untuk membimbingnya supaya ga tersesat. Sedangkan, itulah yang sangat dia butuhkan…” Khortenio bilang, wajahnya ga kalah serius dari Gatan. “… pastikan kamu melakukan hal yang tepat, sebelum dia beneran tersesat.”
“Tentu, dia titipan terakhir panutan saya…” Jemari Gatan, yang melingkar di cangkir kopi, agak menegang. Sebentar, langsung melonggar kembali. “… Ga mungkin saya sia-siakan.”
“… Lega dengarnya. ” Khortenio bangkit dari kursi, selepas abisin air hangat tersisa. “Saya harus balik ke kantor sekarang. Makasih atas waktumu, ya.”
Ketika Pria berambut cepak magenta hendak keluarkan Dalant buat bayar, Wakil Archon mencegah. “Kapan aja, Maximus. Dan izinkan saya yang bayar.”
“Wah, sekali lagi makasih kalo gitu. Padahal saya cuma pesan air hangat.” Liat tawa renyah Komandan Divisi Sains dan Teknologi, Si Sentinel jadi nyengir lebar.
Khortenio berjalan menjauh dari meja, pas jarak diantara mereka sekitar 3 meter, Gatan memanggil, “Khortenio…” Dari raut wajahnya, seolah ada yang belum disampaikan oleh Wakil Archon Federasi, “… 15 taun lalu, saya diselamatkan seorang pria bernama Actassi Grymnsytre. 15 taun kemudian, giliran anaknya yang menyelamatkan nyawa saya.” Dia bilang. Mental Smith berbalik menghadap Gatan. “Apa menurut anda, itu kebetulan?”
Yang ditanya, ga langsung jawab. Lebih dulu menghela nafas, sembari memejamkan mata beberapa saat. Begitu sepasang mata itu kebuka lagi, bibir memapar senyuman, bareng jawaban, “Kamu kan tau, saya ga percaya dengan yang namanya kebetulan.” Dan berlalu, tinggalkan Gatan dengan kopi yang belum dihabiskan.
“Semua terjadi berdasarkan hukum sebab-akibat. Keberadaan kita semua di sini, pasti punya penjelasan tertentu, biarpun kadang kita belum bisa paham penjelasan-penjelasan yang ada di depan mata.” Dalam benaknya, Gatan melanjutkan kalimat yang pernah diucap Khortenio bertahun-tahun lalu, ketika ditanya pendapat tentang konsep ‘kebetulan’. “Oh, ya… saya lupa.” Gumamnya, tanpa ada seorang pendengar pun.
.
.
“Kini kita sampai pada babak puncak raungan ketiga, babak puncak Festival Olahraga ke-23, dimana keempat peserta tersisa akan bertarung dan mengukuhkan posisi sebagai juara! Luar biasa, luar biasa! Tahun ini banyak aksi tak terduga lahir dari keringat para peserta! Mulai dari yang membuat kita tercengang, sampai yang mengecewakan pun tak luput jua! Satu dua kata dari anda, Bung Kus!”
“Ya, sebelumnya terima kasih, Bung Binder. Akhirnya kita sampai pada acara puncak. Hari yang singkat namun terasa panjang. Dan betapa saya harus bilang, bahwa ini adalah suatu kebanggaan bisa berada di samping anda, dan memandu pemirsa sekalian baik yang menonton langsung, ataupun yang berada di mana saja.”
“Sama-sama, Bung Kus! Saya pun merasa bangga bisa mendampingi anda hari ini. Para peserta nampak telah memasuki arena, Bung! Peserta pertama; Siapa lagi kalau bukan pemuda yang disebut-sebut sebagai calon Spiritualist terkuat sepanjang sejarah Federasi, Rokai Leiten! Sudah berkali-kali kita jadi saksi akan kemampuan Spiritualist ini, yang seolah tanpa batas, Bung Kus. Dan satu hal yang ingin saya tekankan, pemirsa. Begitu menyaksikan kemampuan Rokai, jangan tertipu oleh tipikal Wizard yang sering kita jumpai, karena dia adalah seorang Holy Chandra.”
“Peserta kedua; Masih Spiritualist, Meinhalom Zildaz. Bila Rokai Leiten adalah Holy Chandra yang mampu memanipulasi semua elemen, dan hampir menguasai beragam mantra Force, maka Meinhalom adalah Wizard yang hanya bisa memanipulasi Force Api. Eitts, tunggu dulu, Bung Binder. Biarpun begitu, Meinhalom merupakan master Force Api. Kehebatannya tidak jauh berbeda dari Rokai Leiten, dan jangan harap anda menemukan air yang bisa mendinginkan atmosfir di sekitarnya dengan mudah.”
“Selanjutnya, ada nama baru yang untuk pertama kalinya ikut serta dalam Festival Olahraga; Elkanafia Yeve Nordo! Infiltrator! Perempuan dengan kemampuan yang tidak bisa dipercaya! Lolos setelah menjalani duel maut dengan durasi terlama melawan Sabilla Rosseblood, dan menumbangkan Ulfa Hardji tidak lama setelah itu! Saya masih tidak bisa percaya dia melakukan itu setelah menerima perawatan sekadarnya.”
“Dan yang terakhir! Tak lain tak bukan, peserta lainnya yang baru pertama kali ikut Festival Olahraga juga, lelaki yang membuktikkan bahwa semua kemungkinan bisa terwujud jadi nyata, selama masih punya asa, dan modal nekat! Sentinel yang tidak diunggulkan, Lake Grymnystre!”
‘Tidak diunggulkan’? Wuut? Iya, iya, gw tau… gw paling culun. Tapi Seengganya, jangan bilang itu pake nada semangat dong!
Di arena, udah berdiri 5 orang; 4 peserta yang disebut tadi, plus Conquest Borr yang bertindak sebagai wasit. Kami berempat berdiri, dalam posisi membentuk belah ketupat. Di depan gw, tepat berdiri Holy Chandra berambut hitam. Sedangkan, di arah jam 3, Meinhalom menghadap Elka.
“Para peserta, harap mendekat!” Conquest Borr memberi instruksi, “Peraturan duel tidak terlalu berbeda. Indikator kekalahan tetap sama. Yakni bila lawan terjatuh, tidak mampu bergerak, menyerah, dan keluar arena. Peserta diperbolehkan bekerja sama untuk menjatuhkan peserta tertentu, ataupun bila 3 peserta mengeroyok 1 orang, itu sah. Bila ada satu orang yang terjatuh, maka dia harus keluar dari persaingan dan duel terus berlanjut sampai hanya tersisa satu orang yang berdiri di atas arena ini. Paham?”
Serempak kami berkata, “Paham.”
“Baiklah, keempat peserta silakan saling beri hormat!” Masing-masing dari kami, menegakkan badan, dan mengepal tangan kanan di depan dada.
Gw perhatikan satu-satu wajah mereka. Elka udah pamerkan muka tukang jagalnya. Rokai kayak biasa, sangat fokus serta penuh determinasi. Dan Meinhalom, kelopak matanya mulai sedikit turun. Tatapannya sayu, Force merah disertai hawa panas sedikit demi sedikit merembes keluar dari tubuhnya.
Ohh shite … udah pada on-fire aja. Mampus dah gw. Gimana nih? Apa yang akan gw lakukan?
“MULAI!”
Segera setelah pengumuman mulai duel, hal buruk di imajinasi gw yang paling ga pengen jadi nyata, terjadi. Elka dan Rokai, bersamaan, menerjang ke arah gw! Dengan Force pembunuh pekat!
“Ebuset!” Wah, sarap! Ngapain mereka incar gw duluan sih!? Kayak ga ada target lain aja! Kenapa mereka ga saling bertarung aja!? Kenapa harus gw!?
Otomatis gw langsung panik dan satu-satunya hal yang kepikiran adalah; lari. Gw coba hindari terjangan mereka dengan berlari di pinggir arena.
Hadapi satu monster aja udah susah, ini lagi dua. Umur gw bakal beneran jadi pendek yang ada! Elka mendekat lebih cepat dari Rokai, tanpa ragu layangkan tebasan pedang tipis yang sukses gw tangkis pake pedang di tangan kiri di detik-detik terakhir.
Bunyi berdenting amat nyaring. Tenaga Elka terasa terus menekan! Gw sampe harus menopang pedang di tangan kiri yang melintang horizontal pake pedang biru di tangan satunya. Di tengah peraduan, mata kami bertemu. Sepasang mata coklat itu … seram abis. Tajam menyayat nyali.
Dia berujar, keliatannya serius benar, “Berhenti lari dan lawan gw.”
“Tsk!” Emang ini lagi ngapain kalo bukan lawan lu?!
Pas Fokus lagi tertuju ke Elka, dari sudut mata gw liat Rokai memukul tanah, kirim gelombang Force dari kepalan tangannya menuju permukaan arena.
Mendadak pilar Force muncul dari tempat Elka berpijak, membuat gadis itu terlempar ke udara.
“Dia makanan gw.” Kata si Holy Chandra.
Terlempar ga bikin Elka gentar. Dia menembakkan peluru dari handgun di tangan kanan. Yang jadi sasarannya Rokai. Kesal kali udah diganggu.
“Counter Re-arm!” Tapi sia-sia karena begitu Rokai selesai ucap mantra, dia langsung dilindungi 3 bongkah batu berukuran lumayan yang mengorbit di atas kepalanya. Peluru-peluru Elka mentah gitu aja.
Ahh, mantra itu! Kalo ga salah, dia juga pake pas pertarungan pertama kami. Mantra menyebalkan yang lindungi si pemakai dari serangan.
Rokai belum selesai. Kini dia angkat tongkatnya tinggi, dan dihantam ke tanah kuat-kuat.
“Quake!” Tanah bergelombang, membuat jalur berbatu ga rata tercipta dari bawah kakinya dan cepat banget menuju gw hampir seketika itu juga!
Gw lompat ke samping, nyaris aja! Kalo telat sepersekian detik, pasti kena tadi. Tapi, kayaknya gw terlalu cepat senang. Terlihat sinar matahari terhalang sesuatu dari atas. Sebuah bayangan, makin lama makin dekat. Saat gw dongak, udah telat buat mengelak! Elka berputar di atas sana, dan kasih gw tendangan cangkul sekuat tenaga!
Pasrah, harapan terakhir gw cuma silangkan tangan di atas, berharap benturannya bisa diminimalisir.
DUAAAAG!
“FAAK!” Dia pusatkan seluruh berat badannya di satu tendangan itu. Ditambah gaya gravitasi, tenaga yang dihasilkan … buset dah … bikin nyeri lengan gw yang menahan kakinya, “Shite, dia serius.“
Serta merta gw dorong kakinya ke atas, dan bersiap balik menyerang! Berhubung Elka lagi berada dalam jangkauan kedua pedang gw saat ini.
3 tebasan gw layangkan ke arahnya. 2 ditepis dengan pedang, dan 1 berhasil dihindari. Parahnya, bukan cuma menghindar, dia berhasil dapat celah di gerakan ketiga gw dan langsung menutup jarak diantara kami. Lututnya langsung menghujam deras perut gw! “UHUG!”
Momentum dari kecepatan terjangannya masih tersisa banyak, dan itu semua diserap perut malang gw yang belum diisi apa-apa dari pagi. Kaget, napas sampe rada sesak.
Mau atur napas, tapi keburu ingat dia masih di depan! Bisa tambah dihajar nih kalo ga menjauh dulu! Karena udah kenal Elka terlalu baik, gw yakin, abis ini dia akan lancarkan serangan lutut lagi … ke muka.
Benar aja, terasa tengkuk gw ditahan kedua lengannya sehingga gw ga bisa angkat tubuh. Sigap kedua lengan gw lindungi muka dari hantaman lutut Si Infiltrator, dua kali. Dia berniat melakukannya tiga kali, tapi sebelum yang ketiga terjadi, saat satu kakinya terangkat menuju muka, gw dorong tubuhnya menjauh sekuat tenaga.
Elka tersentak dan sedikit hilang keseimbangan. Peluang itu ga gw sia-siakan dengan lompat sejajar tinggi bahunya dan melakukan tendangan gunting ke sisi kepala!
Dia melakukan blok dengan tangan kiri. Untungnya tendangan gw tetap bisa bikin dia goyah.
“Ukkh,” rintihannya bisa terdengar sambil pertahankan keseimbangan, lalu ambil beberapa langkah gontai ke samping. Semoga gw ga terlalu keras menendangnya.
Abis berakrobat sedikit, kedua kaki gw kembali injak tanah. Lepas dari rahang satu monster, langsung masuk ke rahang monster lain. Yapp, Rokai udah menodongkan ujung tongkat perak metaliknya ke gw seraya diputar searah jarum jam.
“Ah, sialan.“
“Typhoon Bane!” Tongkat perak metalik itu tiba-tiba menyentak ke belakang dengan keras! Lepaskan dentuman angin yang ga bisa ditangkap mata telanjang!
“AHHGG!” Proyektil ga keliatan, bikin bingung harus menghindar ke mana. Alhasil bahu kanan gw jadi korban, terdorong setelah kena benturan kuat dari proyektil angin tersebut. Gw ga tau bentuknya kayak gimana, tapi yang jelas, rasanya ekstra pedas! Bak ditembus anak panah ga keliatan yang kekuatannya berlipat ganda.
Udara mulai keluar-masuk paru-paru secara ga beraturan akibat sakit yang gw derita. Terasa amat menusuk, menyebar dari bahu ke sekitarnya.
Gw remas erat bagian yang kena serang. Berharap bisa kurangi nyeri yang lama-lama menguat, biarpun tau, harapan itu kosong. Kesempatan buat atur napas emang datang, tapi dibarengi luka pembuka.
Bangke! Yakali baru 2 menit gw udah wajib keluarkan usaha ekstra buat tetap berdiri!
Rokai berlari dari depan, tangan dominannya berbalut si jago merah. Di kiri, ada Elka yang udah kembali bersiap kasih serangan lanjutan.
Gw penasaran, ke mana perginya perempuan yang tadi bilang ‘ga bisa liat nyawa gw terancam’!? Arrrgghhh!
“Ignite; Raze!” Balutan api di telapak tangan berubah jadi banyak bola api begitu dilempar seluruhnya ke gw!
Jujur, gw ga bisa mikir. Seolah ada yang menghambat kinerja otak. Entah itu panik, pasrah, tercengang, pengen nyerah. Yang jelas, pas pupil ungu gw perlahan dipenuhi warna oranye akibat refleksi bola-bola api, gw ga kuasa bergerak.
Jadi gw tutup mata, untuk menunggu bola-bola itu hasilkan ledakan dan jatuhkan gw ke dasar jurang kekalahan.
“Azrath… Rathrion… Sintosh…” Di tengah pemandangan gelap, gw dengar suara Meinhalom tepat sebelum terjadi ledakan. Barulah sedetik kemudian, suara ledakan berantai memekakkan telinga. Tapi, ga ada satupun yang menabrak badan. Gw buka mata, penasaran apa yang terjadi.
Dan di depan mata, tampak punggung itu. Punggung kecil Meinhalom yang terasa begitu kokoh meredam gempuran mantra api. Dua kuncir rambutnya berkibar akibat hembusan angin panas ketika dua mantra Wizard dan Holy Chandra saling beradu.
Gw dan Meinhalom dikelilingi 3 lidah api berbentuk cincin, berdiameter yang awalnya kecil, lalu terus membesar. 2 cincin api saling silang, dan di antara titik temu keduanya, ada satu lagi cincin api dalam posisi mendatar.
Elka dan Rokai terpaksa mundur.
Silau merah dan oranye saling menjilat, melahap satu sama lain, dan rangkaian ledakan mantra Rokai ditahan semuanya. Panas. Terasa panas sekali di sini. Keringat langsung mengucur ga karuan. Meinhalom berbalik, dihias kobaran api di sekitar tubuh, dan sejenak memandang gw serius.
Lalu dia jalan mendekat. Ga tau deh mau ngapain ni anak. Entah apa tujuan dia menghalau Rokai dan Elka tadi. Antara mau cegah mereka, bantuin gw, atau barangkali dia ngincer gw juga, dan pengen menyingkirkan gw dengan tangannya sendiri. Bodo ah, sekarang udah ga penting lagi, kan?
“Lakukan, Mein. Ga perlu ragu.” Ujar gw pasrah.
Ga ada kata keluar dari mulutnya. Karena Meinhalom lebih pendek, gw menatap sedikit ke bawah buat liat tatapan sayu yang khas. Tau-tau, Si Wizard menaikkan tangan kanan. Dengan jari telunjuk dan tengah, dia menyentuh dahi gw dengan lembut, “Heat… Addict…”
Lapisan energi panas menyelimuti tubuh gw. Suhu tinggi di sekitar yang tadi terasa menyiksa, tetiba timbulkan rasa nyaman, dan adiktif. Tubuh gw kayak pengen cari lebih banyak sumbernya. Ga nyangka, dia bakal melakukan hal tersebut. Dia bantu gw ternyata. Merapal mantra ini, supaya tahan terhadap Force yang bersifat panas.
“Lu ga harus menolong gw sebenarnya.” Karena emang gada kewajiban untuk itu. Lagian, kalopun kita menyingkirkan yang lain dulu… pada akhirnya, kita harus saling menjatuhkan juga.
Agak bimbang juga sih, setelah apa yang gw bilang pada Elka… tapi nyatanya, masih aja selamat berkat ditolong orang lain. Ditambah lagi, untuk kesekian kalinya, Wizard berambut pink inilah yang bertindak jadi penyelamat.
Dia menghadap badan ke arah dua peserta selain kami. Di tengah ekspresi bimbang yang gw tunjukkan, Meinhalom tetap ga berkata apa-apa, melainkan cuma kasih seringai tipis ke arah Rokai dan Elka.
“I won’t mind if you want to protect me, and I don’t consider it as a shame. I hate it, because who knows? At some point, it might hurt you, Elka. And if something bad ever happen to you for the sake of protecting me, I can never forgive my self.” – Lake (ch. 37)
CHAPTER 37 END.
Next Chapter > Read Chapter 38:
https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-38/
Previous Chapter > Read Chapter 36:
https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-36/
List of Lake Chapter:
https://www.pejuangnovus.com/lake-list
Catatan Author:
Woop! Woop! Arc finale is here, at last!
Warna api Meinhalom adalah merah terang, mendekati pink, tapi ga sampe pink. Sedangkan api Rokai berwarna oranye. Tapi ketika apinya membakar benda lain, warna api mereka jadi sebagaimana pada umumnya.