HIDDEN LINE CHAPTER 1 – HIDDEN LINE

Hidden Line spin-off from Journey for Identity
Penulis: Bid’ah Slayer


*Waktu cerita 8 bulan setelah chapter 16 JFI, tepatnya seminggu sebelum November 133 NE.


Di suatu bukit beralaskan rumput,terlihat dua sosok pemuda Corite saling menyerang, pandangan tajam dari masing-masing insan tak lepas dari lawan yang sedang mereka hadapi.

TRANGG!

ZRANGG!

Senjata mereka saling beradu, Pisau tipe Katana dengan Pisau tipe Defender.

BLOKK!

Katana lainnya beradu dengan prisai ; Beam Shield.

Setelah senjata mereka saling beradu, mereka segera melompat menjauh, kembali pada posisi ‘aman’ sekaligus mengamati pergerakan yang mungkin lawan mereka lakukan dan bagaimana cara mereka mengambil celah.

“Hah.. hah… Boleh juga lu, Roni.” Ujar pemuda Corite berambut Biru Tua sambil mengatur nafas.

“Heh.. hehe… sudah gue duga, gaya bertarung lu itu terlalu serampangan, pasti sekarang lu kehabisan tenaga, iya ‘kan?” jawab pemuda berambut putih yang dipanggil Roni.

“Sebagai musuh, gak akan gue jawab pertanyaan yang satu itu.”

Mengakhiri basa-basi, Pemuda berambut biru itu langsung menerjang kearah lawannya dengan menghunuskan salah satu Katananya.

“!”

Dengan sigap, Roni memasang prisainya dalam posisi siaga.

BRAKK!

Benturan keras terjadi, namun kali ini bukan senjata dengan prisai, melainkan…

“A-apa?!…” ujar Roni terkejut.

Pemuda berambut biru itu menggunakan tameng lawannya sebagai penopang kaki agar ia dapat melompat, dan setelah itu, ia sekarang tepat berada diatas sang musuh.

Drap…

ia mendarat tepat dibelakan pengguna tameng dan langsung mengarahkan ujung katana nan tajam kearah leher Roni sebelum Roni sempat menoleh.

“Skak.” serunya tanpa menurunkan kewaspadaan didetik-detik kemenangannya.

“…” Roni menghela nafas singkat “Gak secepet itu!”

TRANGG!

Berbekal mengumpulkan fokus yang dalam waktu singkat, ia berpaling dengan cepat sembari mengayunkan Defender agar katana milik lawannya tak menembus tengkuknya.

Kedua belati kembali beradu membuat percikan api karena besi yang bergesek. Namun memontum sengit itu hanya terjadi sebentar saja, karena sekarang katana lain sudah mengancamnya.

“Mat.” sambung corite berambut biru.

.

“Oke-oke, gue mengaku kalah.” seru Roni pasrah. “Gak gue sangka, lu bakal ngelakuin itu Xel.” serunya pada Corite berambut biru yang bernama Axel, iapun merebahkan tubuhnya pada rerumputan yang ia anggap seperti matras.

“Lu juga, gak gue duga sikap kepala batu lu tetep dibawa-bawa saat lagi sparing begini.” balasnya kini sambil merubah posisinya menjadi duduk.

“Ngomong-ngomong Gaya bertarunglu berubah sejak kita terakhir ketemu, jadi lebih ke offensive, berutal, gunain dua senjata pula. Dari Siapa lu mempelajarinya?” Tanya Roni pada lawan bicaranya.

“Elrond Harvey”

“Elrond Harvey… umm.. oh, si mata satu itu ya?”

“Gak sopan! Walaupun Begitu, ia mentor gue. karena dia, gue bisa mengalahin lu ‘kan?”

Huh…

Roni menghela nafas mendengar sindiran yang dilempar sahabatnya.

“Yahh.. gue hanya tak ngeduga aja, dulu saat kita masih turgon*, lu gak lebih hebat dari gue. namun setelah lu diajari olehnya, ternyata kemampuan lu berkembang pesat. Dan gak terduga.”

“Haha… jangan bicara seakan lu gak jauh berkembang, beberapa bulan gak ketemu gue juga gak nyangka kemampuan bertarung dan pertahanan lu layaknya Cannibal bercula satu. Hahaha…”

Mereka berduapun tertawa.

“Btw, kenapa lu bisa dapet pelatihan special dibawah pengawasan Elrond Harvey?”

“Spesial? lu terlalu berlebihan, dia hanya seorang sahabat dari mendiang ayah gue, mungkin dia memiliki hutang atau janji dengannya untuk ngajarin gue sepeninggalannya. Karena cuma gue seoranglah yang tersisa dari clan gue, jadi hanya dia yang tau bagaimana cara melatih gue agar menjadi seperti ayah gue. Mungkin…” jelas pemuda berambut biru, diakhiri ketidak pastian akan jawabannya.

“Drakho ya… eumm.. maaf ya Xel, membuat lu teringat masalah itu.” ucap Roni menyesal. Agar membuat suasana tak canggung, iapun segera melontarkan pertanyaan

“Xel, nanti pas naik tingkat, profesi apa yang bakal lu ambil? Kalau gue udah pasti Knight agar menjadi Black Knight.”

“Gue masih belum tau mau mengambil profesi akhir apa, tapi kayanya gue bakal mengambil profesi pertama sebagai Champion.”

“Mungkin lu bakal jadi Templar, mengingat si mata satu berasal dari clan Dragunov; yang notabennya Templar.”

“Ya… bisa aja, lihat bagaimana nanti dah.” ucap Axel dan mulai merebahkan tubuhnya, mengikuti Roni.

Ditengah mereka bersantai, tanpa mereka sadari, seseorang telah mengawasi mereka sedari tadi, dan kini ia mendekat.

tap.. tap.. tap…

“Wah wah, sehabis berlatih memang enaknya rebahan di rumput sambil memandangi awan yah?”

“Iya dong…” jawab Roni acuh tak acuh tanpa melihat sumber suara.

Sett… Ron!” bisik rekannya untuk menyadarkannya.

“Bay de way, siapa sih si mata satu itu?” Tanya sosok yang baru datang pada Roni yang asik memandang awan.

“Masa’ gak tau? Tentu saja si Ha…” Roni yang bicara, tiba-tiba menghentikan suara yang hendak keluar dari mulutnya setelah mengetahui siapa yang sebenarnya ia ajak bicara.

“Ha… hari ini cerah sekali yah hehe…” lanjutnya ngeles mentok dengan dibumbui senyum-senyum layaknya anak flem.

“Jangan memperalihkan pembicaraan, siapa si mata satu itu?” ujar sang penanya dengan nada datar.

“Engg…” hanya suara itu yang mampu ia buat, enggan untuk meneruskan.

“Jawab wahai Roni Gee Siegdarker” seru sang empunya suara dengan nada selow, namun itu jelas terasa tajam untuk Roni.

“I-itu anda, Elrond Harvey… Dragunov. Maafkan aku Tuan Harvey” ucapnya seraya menunduk dan memejamkan mata. Khawatir hal buruk akan ia terima.

“… sepuluh putaran.”

“H-hah? Apa yang anda bicarakan tuan Harvey?” Tanya Roni heran.

“Kau mau memperoleh maafku ‘kan? Larilah sepuluh putaran bukit itu, lalu kau kumaafkan” ucap Elrond Harvey.

“A-a…” Roni seakan mematung mendengar persyaratan yang dibebankan padanya.

“Tunggu apa lagi? Cepat lakukan, atau kau mau disidang karena menghina atasan dan mendapatkan hukuman yang lebih ‘menyenangkan’?” serunya memberi pilihan.

“Ba-baiklah Elrond…” Ronipun segera berlari menuju bukit yang jaraknya bisa dibilang lumayan.

Sibodoh…” bisiknya kesal seraya menjauh.

“Aku mendengarnya, tambah lima putaran” timpal Harvey.

.

Sementara Roni berlari menjalankan ‘Hak’ nya, mereka berdua berteduh dibawah pohon yang letaknya tak jauh, juga untuk mengawasi Roni agar tak mengurangi jatahnya.

“Jadi, bagaimana rasanya bisa bertemu kembali dengan sahabatmu, Axel?” Tanya Harvey membuka percakapan. Namun perhatian sepasang netranya tetap tertuju pada Roni yang sedang ia kerjai, hitung-hitung memberinya sedikit pelajaran. Walaupun sebenarnya hinaan yang tertuju padanya tak terlalu ia ambil pusing.

“Tidak buruk, delapan bulan tak bertemu, senang rasanya bisa melihat sahabatku berubah dengan pesat, tadi kami baru bertemu dan memutuskan untuk sparing. Aku juga tak sabar untuk bertemu dengan yang lainnya, guru.” jawab Axel dengan tatapan mata memperhatikan hal yang sama dengan gurunya.

“Ya, aku tau kalau kalian tadi bertarung, teknikmu menggunakan prisai musuh sebagai batu loncatan boleh juga, itu sesuatu hal yang tak ku duga sebelumnya.”

“Anda melihat kami bertarung? Biasanya anda dihari secerah ini selalu tidur siang dibawah pohon, namun tadi aku tak melihat anda.”

“Diatas, aku tidur di sana.” jawab Harvey sambil menunjuk kearah dahan yang besar.

“Oh ya, kau tadi bilang kalau kau tak sabar untuk bertemu dengan teman-teman mu ‘kan?” Tanya Harvey memastikan apa yang dikatakan Axel sebelumnya.

“Ya benar.” jawab Axel.

“Baiklah, kalau begitu kau minggu depan akan ku carikan tim, agar kau bisa bertemu dengan yang lainnya, juga mempunyai banyak teman.”

“H-Hah?! Anda serius guru? Tapi… bukannya pembagian tim sudah pas? Mengingat saat aku menjadi murid anda karena aku adalah prajurit yang kebetulan tak memiliki pasangan untuk dijadikan tim yang jumlah minimalnya tiga orang?” jelas Axel pada gurunya.

“Bila kau mempercayai itu, maka jawabannya ya, Jumlahnya kebetulan tidak pas. Namun bila kau bertanya kenapa orang itu mesti kau, itu karena aku yang memintanya.”

“Anda yang memintanya?” ucap Axel bingung.

“Ya. Anggap saja itu permintaan yang terkabul atau Decem yang mengatur. Kau bebas mempercayai yang mana.”

Keduanyapun terdiam, walau hanya beberapa saat, namun atmosfer disekeliling mereka jelas terasa berubah, drastis.

“… Lalu…” Axelpun mulai melontarkan sepatah kata, yang nantinya akan diikuti oleh kata lainnya yang membentuk sebuah kalimat pertanyaan.

“…saat aku memasuki tim baru itu, apa aku akan sekelompok dengan orang yang ku kenal?”

Sebenarnya ada hal yang lebih penting untuk ditanyakan dalam benaknya, namun entah mengapa ia merasa berat untuk menanyakannya, iapun menanyakan pertanyaan itu, untuk menepis prasangkanya.

“Mungkin” jawab Harvey sambil mengubah posisinya menjadi berdiri. Merapihkan bajunya, lalu bicara

“Selama delapan bulan kau ku latih, aku tau lu memang seperti dia. Dan tentu aku mengetahui sifat dan apa yang ada dipikiranmu, termasuk saat ini. kau mengetahui kalau minggu depan adalah waktunya bulan war, dan aku adalah salah satu orang yang akan ikut di dalamnya.

Yang sebenarnya ingin kau tanyakan adalah

‘Kenapa aku dimasukkan kedalam tim lain’ bukan pertanyaan yang tadi kau ucapkan ; seperti berusaha mengelak.”

Mendengar jawaban gurunya, Axel tampak tercengang, ia tak menduga gurunya tau apa yang sebenarnya ia risaukan. Karena walau ia sangat ingin bertemu teman-temannya, sosok di depannya yang sebagai guru jelas tidak tergantikan. Terasa delapan bulan bersama, ia telah menjadi sosok pengganti yang penting, seorang ayah… keluarga…

“Ta-tapi… bila aku tak mengatakan kalau aku ingin bertemu teman-teman ku, apa aku tidakjadi dipindahkan?” Tanya Axel, kembali mencoba mengelak.

Harveypun menghela nafas panjang, lalu menatap keatas, menyaksikan beberapa cercah cahaya yang berusaha menembus rindangnya pohon tempat mereka berdua bernaung, lalu mengatakan…

“Dengar Axel, jawabannya adalah ; aku merasakan sesuatu yang janggal dihari kedepan. kau pasti faham apa maksudku itu. Oleh sebab itu, aku harus mencarikan pengganti diriku, dan kuharap kau mendapatkan yang terbaik. Aku tak bisa membuat ayah mu kecewa karenaku, tidak setelah kepergiannya.”

Setelah Harvey menjawab, iapun berlalu meninggalkan Axel juga Roni yang sedang berlari mengitari bukit.

.

.

“Hah.. hah… Xel, kemana si mata satu itu?” Tanya Roni dengan nafas tak beraturan.

“Dia dah pergi”

“Dari tadi?”

“Ya.”

“Sitt, tau begitu tadi gue kurangi saja jumlah putarannya.” maki Roni kesal sendiri.

.

.

“Lu kenapa Xel? Tampang lu murung begitu. Apa tadi si mata satu ngomong sesuatu yang gak menyenangkan?” Tanya Roni membuka percakapan dalam langkah mereka menuju ‘rumah’ masing-masing.

“Ah, enggak. Dia hanya mengatakan kalau minggu depan gue akan dimasukkan ke dalam tim baru.”

“Tim? Kalau begitu mungkin lu adalah salah satu orang yang termasuk dalam tim rombakan.”

“Rombakan?” ujar Axel heran.

“Ya, kabarnya beberapa tim akan dirombak, dan mereka yang mempunyai skill diatas rata-rata akan dipindahkan, entah dilatih secara khusus seperti yang selama ini lu alami mungkin, atau dimasukkan dalam komposisi tim tertentu. Itu saja yang gue tau, enggak terlalu jelas memang. Sebagian orang menganggap hanya desas desus, sebagian lagi percaya walau dengan alasan yang berbeda karena memang terjadi.” jelas Roni.

“Oh.. begitu ya…”

“Hehe… kuharap kita bisa satu tim.” seru Roni menunjukkan senyum berserta rentetan gigi putihnya.

“Memang lu mengalami perombakan juga?”

“Enggak, tapi siapa tahu besok demikian. Gue yakin kalau kita berada di tim yang sama, pasti kita gak terkalahkan.”

“Ya, lu benar. Semoga saja itu terwujud.”

.

.

“Aku pulang.” seru Axel memasuki pintu rumah.

“Oh, kenapa kau pulang sore sekali?” seru seseorang dari dalam.

“Tadi kami sempet hunt sebentar dan menjual beberapa barang ke sundries. Guru sendiri baru pulang?” seru Axel pada gurunya ; Elrond Harvey.

Axel dan gurunya memang tinggal dalam rumah yang sama. Lebih tepatnya selama ini Axel tinggal di rumah Harvey. Sejak ia dimentori olehnya, sejak itu pula Axel tinggal di sana. Mendapatkan pelatihan ‘khusus’ dan terisolasi dari teman-teman sebayanya. Itu adalah harga yang ia mesti bayar, namun semua itu akan berubah dalam beberapa hari kedepan.

“Ya, aku baru saja sampai, rapat mengenai strategi perang sungguh merepotkan.” ujar Harvey sambil meletakkan makanan ke meja makan.

“Guru memasak makanan hari ini?”

“Mumpung tadi saat pulang aku melihat makanan laut sedang murah. Jadi aku memasaknya.”

“Yasudah, aku mau mandi dulu. Nanti biar aku yang mencuci piringnya.” ucap Axel sembari melangkah ke kamar mandi.

.

.

“Axel, ada yang ingin aku bicarakan. Ini mengenai hal yang tadi siang kita bicarakan.”

“He’emm…” suara yang bisa ia keluarkan karena sedang penuh dengan makanan.

“Kau akan menemui anggota tim mu besok.”

“UHUKK!” Axel tiba-tiba saja tersedak saat mendengar perkataan gurunya.

Iapun langsung mengambil air yang sanggup ia gapai dan meminumnya…

Gluk.. gluk.. gluk…

BRUSHHH…

“APA?! Katanya minggu depan, kok jadi mendadak?” seru Axel heran.

“Rapat mengenai strategi perang itu memakan banyak waktu dan tenaga. Belum lagi rapat clan. Aku tak bisa melakukan semua itu secara bersamaan. Jadi aku langsung menemui rekanku dan membicarakannya. Ia menyanggupi dan besok pagi kau pergi ke Istana Numerus, tunggu lah di sana.” jelas Harvey sambil melanjuti minum tehnya.

“Siapa yang akan menjadi mentorku?”

“Kenalanku, lebih tepatnya anak didikku. Ia bernama Rasikh, Anclaime Rasikh. Dia adalah anak yang berbakat. Menduduki pangkat Anclaime saat ini dengan umur 19 tahun.”

“Se-Sembilan belas tahun?!” “Guru pasti bercanda, dia hanya dua tahun diatas ku sekarang.”

“Sudah kubilang. Aku harus mencari penggantiku yang terbaik ‘kan?”

“Ah, iya.” Seru Axel kembali menyantap makanannya. Lagi, seperti tadi siang, suasana menjadi hening.

Cukup lama suasana hening ini berada ditengah-tengah mereka, axelpun membuka pertanyaan. “Ngomong-ngomong, seperti apa ciri-cirinya?”

“Umm…Dia tampan, perempuan banyak yang menyukainya, dan…”

“Fisik -_- ” Sela Axel dengan muka datar.

“Fisik, ia sepertinya lebih tinggi darimu kurang lebih 20 cm. berambut hitam, dan postur tubuh yang tegap.”

“Nah, kalau begitu aku tak akan susah mencarinya esok.”

.

.

Keesokan harinya, Axel bangun pada pukul 06:07 pagi. Seperti biasa, dialah yang bertugas membuat sarapan pagi untuk dirinya dan sang guru, Sebelum semuanya mengawali aktivitas masing-masing.

“Selamat pagi guru.” ucap Axel memberi hormat padanya.

“Hoammzz… Pagi.” Jawab Harvey masing mengantuk.

“Oh ya, anda ada rapat penting pagi ini?” Tanya Axel membuka pembicaraan sambil mengolesi mentega di roti yang akan ia bakar.

“Rapat, pagi ini? Sepertinya tidak ada. Rapatnya siang kok” jawabnya sambil duduk lalu meminum kopi yang sudah tersedia, kopi hitam cap Pesawat Api.

“Tidak ada? Tapi tadi ada seseorang mengantarkan surat ini, sepertinya isinya sangat penting. Ia sampai terengah-engah saat mengantarkannya” ujar Axel sambil menyerahkan surat yang tersegel tanda aliansi suci Cora.

“Surat.. penting..” iapun membuka surat itu dan membacanya.

BRUSHHH!

“Rapat Mengenai Senjata!” seru Harvey kaget sampai menyemburkan kopi yang hendak ia minum.

“Rapat tentang senjata?” ucap Axel dengan nada heran.

Apakah aliansi suci sudah mempunyai senjata baru? Kalau begitu kejayaan Cora sudah di depan mata!

Batin Axel sambil menghidangkan roti yang sudah ia bakar.

“Ya, rapat tentang senjata…” ucap Harvey sambil kembali meminum kopinya.

BRUSHHH!

“Pagi ini, pukul 06:30!” Harvey kembali menyemburkan kopi dari mulutnya.

“Axel, pukul berapa sekarang?!”

“Pukul 06:19.” Ujarnya sambil melihat chronometer yang berada ditangan kanannya.

“Baiklah, kalau begitu nanti kau bawa kunci rumahnya. Aku akan segera berangkat.” ucap Harvey segera bergegas kekamar mandi.

.

.

*Ruang Rapat Majlis Tinggi Aliansi Suci Cora*

“Baiklah, karena semua sudah berkumpul, maka saya selaku pemimpin rapat ini, juga pemimpin dari tim research pengembangan senjata, dengan nama Decem yang suci, dan atas seizin Yang Mulia Quaine Khan, saya menyatakan rapat dimulai.” ucap sang pemimpin rapat, Uskup Renault Smirnov Rosario pada para peserta rapat.

.

“Seperti yang kalian tahu, senjata yang kita dan bangsa lain gunakan adalah senjata yang dapat meningkatkan kekuatannya sesuai dengan kekuatan penggunanya dengan batas tertentu. Peningkatan kekuatan senjata itu sendiri dipengaruhi kekuatan force pengguna. Dilatarbelakangi demikian, kita, bangsa Cora adalah bangsa yang unggul dalam kekuatan force. Maka dari itu kami selaku tim research berinisiatif dan juga terus berupaya membuat suatu terobosan baru dalam persenjataan agar tercapainya kekuasaan Cora disektor Novus ini.

Dark Force, diberkati oleh Decem dengan kekuatan besar. Kami telah menemukan bagaimana cara kekuatai itu agar tersusupi dalam senjata yang kita gunakan selama ini. Namun sifat force gelap yang cenderung tak stabil, membuat tidak semua senjata cocok. Banyak dari percobaan kami gagal yang berujung pada hancurnya senjata uji coba. Namun Decem senantiasa menjanjikan keberhasilan bagi hambanya yang tak berputus asa.

Hari ini, kami tim research telah mengujicobakan penemuan kami yang tempo hari telah berhasil kami ciptakan. Sengaja memang kami tak mempublikasikan karena penelitian ini bersifat rahasia. Kami tak mau informasi ini bocor sehingga jatuh pada bangsa lain.

Senjata yang berhasil kami buat adalah transformasi dari Lance, senjata tipe tombak dengan tingkat (level) 40. Percobaan pada Lance menunjukkan reaksi stabil, dan dengan itu kami menamakan senjata tersebut adalah…”

Uskup juga selaku ketua peneliti menahan perkataannya sambil memberi isyarat pada seseorang untuk membawakan hasil penelitian yang delapan bulan sudah dibuat.

“Intense Black Lance”

Para petinggi aliansi suci Cora yang menghadiri rapat rahasia ini dibuat tercengang. Mereka menyaksikan senjata yang belum pernah diciptakan sebelumnya. Sebuah kunci menuju kemenangan.

“Sebuah tombak yang akan membawa kita pada pintu kejayaan.”

.

Setelah Uskup mempresentasikan hasil ciptaannya, seseorang bertanya padanya.

“Uskup, mengingat senjata ini akan digunakan saat perang nanti. Siapakah pengguna tombak ini.”

“Berdasarkan keputusan dan izin yang mulia Quaine Khan yang diberikan padaku, aku menunjuk pengguna tetap dari Intense Black Lance ini adalah pengguna pertamanya, yaitu Alco Holec Dragunov.” Jawab sang Uskup.

“Apakah itu tidak terlalu gegabah namanya? Membiarkan anak berumur 22 tahun memegang kunci kejayaan Cora? Maksudku, aku yakin di ruangan ini pasti ada yang bertanya-tanya, juga keheranan sepertiku. Kenapa mesti dia yang masih anak kemarin sore yang menggunakannya. Sedangkan banyak diantara kita yang jauh lebih berpengalaman yang pantas untuk mendapatkannya.” seru seorang pria berambut perak panjang. Ia memperotes dengan lantang sambil berdiri.

Mendengar protesan keras dari salah satu peserta rapat, Uskup Renault merasa tidak terkejut, ia sudah bisa menduganya kalau hal ini akan terjadi, tepat dalam pembicaraan ini.

“Baiklah. Pertama-tama ku ucapkan terimakasih padamu, tuan Silver Lance, yang menurutmu telah mewakili pertanyaan sebagian besar orang diruangan ini.

Memang, seperti yang kau fikirkan, aku juga sudah memikirkannya. Memang Alco adalah prajurit yang muda, namun dia bukanlah anak kemarin sore. Dia sudah beberapa kali menjalankan misi di daerah netral, bertempur dengan bangsa lain, juga telah beberapakali mengikuti war. Atas dasar itu dan dengan perhitungan lainnyalah aku memilihnya, selain hak prerogratif yang Quanie Khan berikan padaku.” Ucap Uskup menjelaskan, iapun sempat menekankan kata ‘Hak Prerogratif’ pada kalimatnya.

“Akupun sebelumnya telah memilih calon yang pas sebelum pilihan jatuh pada Alco…”

“Siapa itu?” Tanya seorang yang disebut Silver Lance.

“Rekanmu, Gold Lance. Seandainya ia tak gugur dalam misi di Sette, mungkin ia yang akan menggenggam tombak ini sekarang.” jawab Uskup dengan gesture tegas, bertatap tajam.

Setelah mendapat jawaban dari ketua peneliti, dengan raut kesal, silver lance kembali duduk.

“Selain itu, aku sudah mempunyai rencana. Biar ini kita bahas menjadi rapat strategi perang. Dengan ‘anak baru’ yang memegang kunci kemenangan kita. Ini akan menjadi serangan kejutan yang tak terduga bagi pihak Accretian dan Bellatean.

Sama seperti kemunculan senjata ini, dengan ia yang membawanya. Ia dan kunci kemenangan tidak akan diduga oleh pihak musuh. Lain halnya bila yang membawa adalah Archon atau yang lainnya. Dengan mudah mereka akan menyadari, mengamati, lalu membangun rencana agar menangani kekuatan baru kita.

Itu semua tidak boleh terjadi, dan kita tak mau itu terjadi.

Untuk mendukung agar Alco selaku pemegang kunci sukses dalam menghancurkan chip. Ia akan kumasukkan dalam tim yang langsung dikomandoi oleh Elrond Harvey Black Dragunov.”

“A-apa? Maksudku… A-aku?”ucap Harvey terkejut, karena sudah menjadi sikapnya cepat bosan dan mengantuk dalam mengikuti rapat. Terlebih yang bersifat dadakan seperti ini. Sehingga biasanya ia tertidur.

“Ada apa Harvey? Apa kau keberatan?” Tanya Renault.

“Tidak tuan, saya hanya memastikan apa yang saya dengar saja.” Jawab Harvey memberi alasan agar terlihat tetap fokus.

“Baiklah, selanjutnya strategi perang akan dilanjutkan oleh Archon. Saya undur diri dulu.”

.

Eh Haan, tadi Uskup Renault ngomongin apaan? Kok bawa-bawa nama gue?” bisik Harvey pada teman sebelahnya

Uhh..penting banget Vey, penting banget, hajat orang banyak malah, kalo lu gagal bisa turun pangkat luh.” Jawab temannya yang dipanggil Haan.

Et dah, serius, kalo penting kenapa lu gak bangunin gue sih?!” Bisik Harvey kesal akan kelakuan temannya.

.

.

*Istana Numerus*

Di istana Numerus, Axel sedang menunggu mentor dan rekan tim barunya. Sepertinya ia sampai terlalu pagi, sehingga ia memutuskan untuk mampir sebentar meminjam buku di perpustakaan milik aliansi suci.

“‘Clan-clan Bellatean’?” serunya dengan nada heran setelah mendapati salah satu buku kusam yang sedikit tersembunyi letaknya. Mungkin terjatuh sehingga tidak dapat dibersihkan oleh librariant.

Iapun membuka halaman secara acak, lalu sampai dihuruf G

“Gy… Gymnastiar? Ughh.. ejaannya susah sekali, Grymnestre? Terserah.” dumelnya mendapati ejaan yang susah dilafalkan.

‘Adalah clan yang diyakini telah punah dari federasi union. Mereka adalah clan yang haus akan peperangan…’

“Yang benar saja, mana ada clan begitu.” Ucapnya tak membaca seluruh halaman. iapun kembali membuka halaman selanjutnya secara acak.

“Lac.. Lachrymose? Terserah…” lagi, ia sedikit kesusahan mengeja bahasa yang rumit.

‘Adalah clan dari bellato yang dikenal licik dalam muslihat bertarung, sejauh ini mereka diketahui hampir menyerupai gaya bertarung dari kelas Stealler…’

Hmph… licik? Terdengar lebih seperti seorang mesum yang memuja kaki…”

Batinnya, iapun membuka halaman selanjutnya.

“Redmoon.”

‘Dari informasi yang berhasil Hashashin dapatkan, kabarnya mengatakan bahwa seluruh anggota dari Clan Redmoon telah terbunuh karena insiden tertentu. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, namun ciri-ciri yang dikenal dari clan ini adalah iris mata yang berwarna merah darah…’

Seluruh anggota clan terbunuh… ugh, setidaknya mereka masih lebih beruntung karena tidak merasakan penderitaan. Karena semuanya terbunuh.”

Tiba-tiba Axel menyadari sesuatu, “Tar dulu, kalo ada waktu buat baca begini. Kenapa gak gue cari aja tentang clan gue? Kenapa mesti repot-repot cari tentang clan bangsa musuh?” seru Axel bermonolog.

Iapun memutuskan untuk segera mengembalikan buku itu pada tempatnya. Namun saat ia berpaling badan…

BRUKK!

“Aww, maafkan aku.” ucapnya sambil mengelus hidungnya yang kesakitan.

“Wah, apa yang sedang kau cari anak muda?” seru pria yang ditabrak, pria berambut biru panjang yang dikuncir itupun memungut buku yang terjatuh. “Buku ini nampak usang, Clan-clan Bellatean?” serunya sambil membuka halaman secara acak.

“Roseblood ; Clan dari Bellatean yang pandai dalam berburu. Punya bakat mematikan pada sebagian kecil anggotanya. Diturunkan secara matrineal…” setelah ia membaca dengan suara jelas, ia berkata

“Kebetulan sekali, aku sudah lama mencari tentang buku ini. Apa kau tidak keberatan bila aku meminjamnya terlebih dahulu?”

Axel yang semula menelisik penampilan orang yang ditubruknya langsung menghentikannya, menatap orang yang mengajak bicara, lalu menjawab “Tidak. Memang apa yang akan anda lakukan dengan buku itu?” Tanya Axel sedikit curiga.

“Haha… hanya sesuatu yang mesti dilakukan, bisnis.” jawabnya dengan senyum.

Iapun lalu merogoh saku celananya, lalu memberikannya pada Axel.

“Ini, ucapan terimakasih dari ku.”

Koin… emas?” Batin Axel, namun saat ia hendak berterimakasih. Orang itu sudah lenyap dari hadapannya.

.

.

Dirasa waktunya untuk kembali ke gerbang Istana Numerus, Axelpun langsung pergi, khawatir yang lain sudah lama menunggu.

Nampak sudah ada tiga orang berdiri di sana, seorang lelaki yang dijabarkan ciri-cirinya kemarin oleh Elrond Harvey, dan dua wanita lainnya. Sebaya dengan Axel.

Re-rekanku… wanita semua?” Batin Axel sedikit terkejut.

Ia kinipun menghampiri mereka dan mengucapkan salam.

“Selamat pagi.” ucapnya sambil membungkukkan badan, 90 derajat.

Yang lainnya hanya bisa melihatnya sedikit tak menduga. Karena ia membungkuk terlalu formal.

“Kau pasti Axel ‘kan? Murid Cham- Elrond Harvey.” seru pria yang bernama Rasikh.

“Ya, itu namaku.”

“Lain kali tidak usah memakai gaya terlalu formal. Aku juga bisa menerima salam biasa kok. Umur kita semua tidak terlalu jauh.” ucapnya.

“Ah, iya benar. Maafkan saya, karena terbiasa memberi salam seperti itu pada Elrond Harvey.”

“Yaudah, tidak apa-apa. Baiklah semuanya, karena semua sudah berkumpul. Maka mari kita memperkenalkan diri masing-masing. Dimulai dariku.”

“Namaku Rasikh, Anclaime Rasikh. Umurku 19 tahun. Profesiku adalah Templar.”

Setelah Anclaime Rasikh memperkenalkan diri, kecuali Axel, para gadis sedikit terkejut, mengetahui umur mentor mereka hanya berbeda sedikit diatas mereka.

“Baiklah, selanjutnya Kau.” Seru Anclaime Rasikh pada gadis berambut hitam perak terurai disebelahnya.

“Namaku Rachel, Rachela Anant Nobleist. Umurku 16, aku adalah seorang Spiritualist. Sebelum dipindahkan dalam tim ini. Aku sebelumnya berada di tim Taurus 11 bersama Bima Draguila dan Shre Chalyvsen. Mohon kerjasamanya.” ucapnya diakhiri dengan rundukan ala bangsawan.

Untuk beberapa detik, Axel dibuat terpaku akan perkenalan rekan barunya itu. Rambut yang turun saat ia merunduk seakan memantulkan secercah cahaya Niger. Ditambah aksesori yang berada dikepalanya. Membuat kesan elite saat pertama bertemu.

“Namaku Kharina, Kharina Lumine Knowlight. Aku adalah seorang ranger. Kelak aku akan menjadi Adventurer. Sebelumnya aku berada di tim Aries 31, bersama Hadd Sliverwing dan Ravly Freewind. Umurku 17 tahun. Semoga kedepannya kita bisa berkerjasama dengan baik. Mohon bantuannya.” seru seorang gadis berambut hijau dikepang. Sebelumnya Axel tidak pernah bertemu dengan banyak orang, dalam arti tak mengetahui bila ia akan bertemu dengan gadis dengan gaya rambut yang seperti Kharin gunakan sekarang, ia terlihat sangat… cantik.

Umur prajurit Cora memang terbilang muda. Karena dalam tingkat masa pertumbuhan (Pubertas) tergolong cepat, sedangkan penuaan lambat. Corite mandapatkan awal bentuk tubuh maksimalnya saat berumur 16 tahun. Dan mampu hidup selama 200 tahun. Berbeda dengan Bellatean yang mendapatkan awal bentuk tubuh maksimal pada usia 22 tahun, dan mampu hidup hingga 150 tahun. [Z]

“Axel! Sekarang giliranmu memperkenalkan diri.” seru Anclaime Rasikh mengingatkan Axel yang entah memikirkan apa. Atau lebih tepatnya entah terpaku melihat ‘apa’.

“A-ah.. iya, Perkenalkan, namaku Axel Anubis Drakho. Umurku 17 tahun. Aku adalah seorang Warrior. Masalah tim, sebelumnya aku tak masuk tim apapun…”

“Hah? Yang benar kamu Xel?” ujar Rachel langsung memanggil nama depannya.

“U-um.. Benar… saat pembagian tim, kebetulan jumlah pesertanya ganjil, dalam arti tim yang harus terbentuk dengan tiga orang. Aku merupakan seorang yang tak memiliki pasangan.” setelah ia mengatakan itu, Rachel dan Kharina tertawa.

“Haha… kamu Badluck ya, Badluck Axel, haha…” ujar gadis berambut hitam perak. Namun ditertawakan tidak membuat Axel manjadi malu, ia malu melainkan baru kali ini melihat wanita tertawa, wanita cantik saat membentuk senyuman di wajahnya.

“Be-begitukah? Menurutku tidak badluck juga. Selama ini aku mendapatkan pelatihan dari Elrond Harvey. Ia yang mengajariku gaya bertarung yang pantas untukku. Aku merasa… dengannya aku bisa tertuntun menemui takdirku.” Sempat ia tertegun saat hendak menyelesaikan kalimatnya, menyadari, bahwa posisinya saat ia berdiri mengartikan kalau mungkin saja dalam waktu dekat ia tidak akan bertemu dengan guru yang sudah ia anggap sebagai keluarga… ayah…

“Baiklah, kalian sedang ditingkat 28 ‘kan? Kalau begitu langsung saja kita mulai misi kalian.” ujar pria berambut hitam sambil melihat list misi di log questnya.

“Kumpulkan sepuluh Siar Blibend dan sepuluh Jemz Riar.”

“Mengumpulkan barang dari hunting? Yah.. itu hal yang paling aku tidak suka.” Keluh Kharin, Rachelpun menyetujuinya.

“Bukannya ini lebih gampang? Kita bisa mendapatkan beberapa item hunt sekaligus dari satu monster, dengan begitu misi akan lebih cepat selesai.” ucap Axel.

“Tidak! Aku lebih baik menghanguskan 40 monster dengan forceku ketimbang harus mengacak-acak mayat mereka hanya demi item hunt.” tolak Rachel.

“Sama, aku lebih baik melubangi kepala mereka dengan anak panahku.” sambung Kharin.

Duh, begini toh repotnya setim sama perempuan. Pantes Guru gak nikah-nikah.” Batin Axel memandang keatas langit biru nan cerah.

Anclaime Rasikhpun berkata “Dan ingat, walaupun kalian satu tim. Namun untuk misi kali ini adalah misi personal. Hasilnya aku tinggu saat Niger tepat berada diatas dengan mosisi 90 derajat.” ujarnya pada anak buahnya.

“Eh, kok begitu sih.” perotes para kaum Hawa. Namun bukan itu yang Axel heran,

“Anclaime tidak mengawasi kami saat menjalankan misi?” ujar Axel.

“Aku baru saja mendapat panggilan mengenai war yang akan datang. Kuserahkan semuanya padamu Axel, kau adalah ketuanya.” balasnya diakhiri dengan senyum, lalu berteleportasi kesesuatu tempat.

Wutt? gue harus mengawasi mereka juga? Mereka belum tentu mau ngejalanin misi ini, gue juga yang harus jadi ketuanya… oh Decem, bantulah hambamu ini…” Batin Axel sambil berfacepalm.

.

.

“Baiklah, seperti yang kalian dengar, kali ini akulah ketua timnya. Jadi biar kuberi sedikit yang kutahu. Siar Blibend merupakan bagian dalam dari organisme organic hidup, demikian juga Jimz Riar. Dari bentuknya dan sepengetahuanku. Siar Blibend terdapat pada monster bernama Clod. Dan Jimz Riar dari tentakel Anabola.”

“Iyuhh… Clod kan monster ulet biru yang menjijikan itu.” seru Rachel.

“Iya, Anabola juga monster tumbuhan yang tentakelnya suka kemana-mana.” balas Kharin.

“Iya-iya… aku tau kalian jijik, tapi kita inikan prajurit. Kadang bagaimanapun medannya harus kita lalui ‘kan? Kita akan kerja sama biar monster-monster itu cepat mati. Berhubung mereka monster elemen tanah, aku minta kamu Anant, kasih mereka debuff lalu serang dengan elemen api.” Ucap Axel memberi komando pada Rachel dengan nama tengahnya.

“Iya aku paham kok. Oh ya Axel, kamu panggil aku pake nama depan aja, Gak apa kok.” ucap Rachel, Axel yang tak terbiasa di’kerumuni’ wanita. Terlebih membicarakan hal seperti ini membuatnya sedikit gugup.

“G-gak papa? Aku cuma gak biasa… ke-kesannya kita jadi akrab begitu.” jawabnya sedikit gagap. Memanggil nama depan di bangsa Cora adalah hal yang dilakukan bila kau memanggil orang yang cukup dekat atau sejenis.

“Haha… gak apa lagi, kita kan bukannya harus akrab?” balas Rachel.

“Iya sih.” Tanggap Axel melihat tanah tempai ia berpijak, tak berani memandang lawan bicaranya.

“Jangan-jangan pas Rachel panggil nama depan kamu, kamu sedikit gugup kaya gini?” Tanya Kharin memastikan.

“…” yang ditanya hanya bisa mengangguk.

“Haha, yaudah… mulai sekarang kita manggil nama depan aja ya?” usul Rachel dengan senyum, sontak membuat telinga Axel memerah saat melihatnya.

“Yaudah yuk, kita langsung selesaiin misinya, nanti Axel yang ngambilin barang-barangnya ya…” ucap Kharin menggenggam tangan Axel dan Rachel. Axelpun tak sempat berkilah untuk menjawab, karena kini ia sudah ‘diseret’ menuju tempat hunt agar misi yang diberikan cepat selesai…

“Ya. Anggap saja itu permintaan yang terkabul atau Decem yang mengatur. Lu bebas mempercayai yang mana.”
-Harvey Black Dragunov, the Sleepy Dragon- Ch. 1

CHAPTER 1 END.
Next Chapter > Read Chapter 2:
https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-2
List of Hidden Line Chapter:
https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-list


Catatan Author:

JFI WIKI/Trivia :
Weapon :
– Katana (Pisau) level 22, Atk : 218 – 277.
– Defender Saber (Pisau) level 28, Atk : 335 – 439.
– Beam Shield ; Tameng level 27.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *