LAKE CHAPTER 10 – ETHER HERE I COME

Lake
Penulis: Mie Rebus
..Ruang Kerja Archon..
“Lu habiskan banyak waktu ya, buat anak itu?” Tanya seorang wanita berambut oranye kehitaman pada Pria yang pake Armor biru gelap di sebelahnya.
“Iyalah, belum tau emang? Gw kan jadi mentornya.” Jawab si pria tanpa alihkan mata dari pemandangan di luar balkon.
Halaman depan HQ masih terlihat sepi pada waktu pagi kaya gini. Baru terlihat beberapa kadet jogging sebelum mulai aktifitas mereka. Sedikit gerimis bikin dedaunan di pohon sekitar kebasahan, tapi ga jadi penghalang bagi para kadet buat lanjut jogging. Suhu udara ini masuk kategori dingin bagi kebanyakan penghuni Headquarter.
“Hah?! Pantas belakangan ini lu jarang keliatan.” Si Wanita, adalah Wakil Archon Maximus Izcatzin Kirxix. Terdengar kaget dengar jawaban pria itu. “Kok ga bilang-bilang sih?!” Nada kesal terselip di balik kalimatnya.
“Kenapa gw jadi harus lapor ke elu?!” Balas si pria, “Biar lu bisa menggila lagi ke dia? Pfft… enggak deh, makasih. Sejak kejadian itu, dia jadi takut sama lu, tau?” Lanjutnya meledek Izcatzin, mengingat kemarahan ga jelas Armor Rider tersebut terhadap anak didiknya. Tinggalkan kenangan ga begitu bagus tempo hari.
Pria ini, salah satu Wakil Archon sama seperti Izcatzin. Maximus Gatan Valsynvis. Kedua Wakil Archon sedang nikmati waktu senggangnya dengan mengunjungi ruang kerja Archon mereka, Maximus Croiss Kirxix.
“Muahaha! Udah sepantasnya dia takut! Kalo perlu, gw akan buat dia hidup dalam kegelisahan selama sisa umurnya! Hahahaha.” Tawa jahat yang dibuat-buat keluar dari mulut wanita bermata kehijauan ini, Gatan tampak cuma hela napas dan memilih buat ga serius menanggapi. Karena dia tau partnernya cuma bercanda.
“Dasar nenek sihir.” Celetuk Gatan, seraya tinggalkan balkon dan masuk ke ruangan.
Ga ada perbedaan berarti antara ruang kerja Archon dan Wakilnya. Tata ruangnya sama, ada satu jendela besar dilengkapi balkon. Sebuah sofa panjang yang bisa muat 4 orang, ditemani dua sofa berukuran lebih kecil berfungsi sebagai tempat duduk bila Archon atau Wakil Archon kedatangan tamu ke ruangan mereka.
“Dih!” begitu dikatain nenek sihir, raut wajah Izcatzin langsung bete. Manyun-manyun ga jelas lalu ikut langkah Gatan masuk juga. “Croiss! Lu dengar ga?! Masa gw dikata nenek sihir!” Dia mengadu ke Sang Archon yang dari tadi berkonsentrasi pada setumpuk berkas di meja kerjanya.
Archon, yang sebenarnya ga begitu tertarik dengan pembicaraan mereka berdua, malah bisa dibilang terganggu oleh kebisingan yang mereka buat, cuma mengucap satu kalimat singkat, “Cari kamar sana.”
Wajah sang Kakak tiba-tiba memerah padam dengar omongan adiknya yang ga dia duga. Ya, Croiss tau kakaknya menaruh perasaan pada Gatan. Tapi, entah Sentinel itu sadar atau enggak, sampe sekarang sikapnya seolah cuek dan ga begitu responsif. Izcatzin sempat melirik ke arah Gatan yang sekarang lagi tiduran di sofa panjang.
Daaan… merahnya makin menjadi. Kayaknya, Gatan ga memerhatikan gelagat aneh Armor Rider eksplosif tersebut.
“Luuu! Jadi adek jangan kurang ajar dong!” Izcatzin mendadak jadi salah tingkah dan ga tau harus ngapain.
“Ampun deh. Lu cuma lebih tua 3 bulan. Teknisnya, umur kita sama.” Kata Croiss sambil terus memeriksa berkas yang seakan ga ada abisnya.
“Biarpun cuma 3 bulan, berarti gw tetap kakak lu tau! Sopan sedikit!”
“Terserah.” Omelannya dapat tanggapan dingin dari Croiss, benar-benar malas akan gangguan pada kerjaan. Dia ga pernah abis pikir kenapa sang kakak masih suka bertindak kayak anak-anak. Emosinya yang suka meledak-ledak, bermasalah dengan tempramen, ga bisa diam dan lain-lain. Padahal harusnya menjabat Wakil Archon, dia wajib kasih teladan baik pada anak buahnya kan?
Tapi Croiss lebih memilih kakaknya kayak gitu, ketimbang kalo Izcatzin diam-diam aja, menjadi pertanda kalo dia lagi kenapa-napa. Itu justru bikin Croiss khawatir. Di balik sikap yang mereka tunjukkan, mereka tetap saudara kandung yang saling menyayangi dan menjaga satu sama lain.
“Gimana menurut lu si bocah berambut abu-abu itu, Croiss?” Mendadak pertanyaan dengan intonasi serius keluar dari mulut Izcatzin. “Gatan melatihnya tanpa bilang-bilang ke kita.” Dengar namanya dibawa-bawa, si Sentinel alihkan tatapannya pada Croiss tanpa bangkit dari posisi tiduran.
“Yah, dia masih muda. Dan ga bakal menyakiti bangsa kita,” jawabnya enteng.
“Tuh kan, bahkan adek lu aja sependapat dengan gw!” Sela Gatan tiba-tiba.
“Tapi itu kan sekarang! Siapa yang tau bakal jadi apa dia nanti? Udah gitu lu melatih dia ilmu berpedang lu pula! Bisa jadi makin bahaya!” Sanggah Izcatzin dengan nada makin meninggi.
Gatan terdiam. Garis wajahnya menunjukkan kekesalan. Perkataan Izcatzin mengganggu mood baiknya di pagi hari. Dia berdiri dari sofa dan beranjak ke sudut ruangan, tempat di mana kulkas berada.
“Bahaya? Emang lu pikir, dia itu apa?” Tanya Gatan pelan, sebentar kemudian. Tangannya berada di gagang kulkas, bersiap membuka dan liat isi di dalam, “dia itu Bellatean, sama kaya kita. Dia berhak buat memilih jalan hidup sendiri. Berhak berjuang demi darah yang mengalir deras di urat nadinya,” dengan satu tarikan, pintu kulkas pun terbuka. Gatan langsung jongkok dan cari sesuatu.
“Ingat kejadian waktu itu! Lu hampir tewas gara-gara-” Belum selesai Izcatzin bicara, langsung dipotong Gatan.
“Kan udah berkali-kali gw bilang, itu bukan salahnya. Gw lah yang-” lalu gantian, Izcatzin yang memotong kalimat Gatan.
“Lindungi dia? Buat apa sampe segitunya? Padahal waktu itu lu baru pertama kali ketemu dia. Kenapa, Gatan?!” Wakil Archon wanita membalas sengit perkataan Sentinel itu. Semata-mata karena perasaan cemas dan perhatian terhadap Gatan.
“… Mau lanjutkan perdebatan ini? Lu tau ga bakal menang adu argumen lawan gw, kan?”
Ga ada sekata pun keluar baik dari mulut Izcatin atau Croiss. Keduanya memilih diam karena ga tau harus bilang apa buat menimpali kata-kata Gatan. Mereka terlalu baik mengenal Gatan, dia adalah tipe orang yang sebenarnya sangat sulit ditebak. Bahkan setelah sekian lama bekerja sama, kakak-beradik tersebut kadang masih sukar untuk sekedar tebak isi kepalanya.
Hal lain tentang Gatan yang mereka pahami, dia selalu berada dalam dunianya sendiri. Pendiriannya lebih dari teguh. Ga peduli apapun kata orang, dan sulit perdebatkan pikiran lawan dia.
Croiss emang ga masalah terhadap apapun keputusan Gatan dan lebih sibuk mengerjakan seabrek laporan yang dari tadi ga kelar-kelar. Tampaknya Izcatzin harus belajar untuk jadi berjiwa besar.
“Oh ya, sekedar info. Dia putra Maximus Actassi.” Ujar Gatan. Izcatzin dan Croiss tercengang dengar kalimatnya. Liat reaksi mereka, Gatan berasumsi kalo mereka baru sadar.
“Tau dari mana?” Croiss mulai tertarik dengan obrolan ini kayanya.
“Namanya, laaaah!”
“Emang siapa namanya?” Kali ini giliran wanita yang lebih tua 3 bulan bertanya.
“Grymnystre! Lake Grymnystre! Astaga, lu ga tau namanya tapi udah jelek-jelekin aja sih!” Kata-kata penuh kejengkelan diucapkan Gatan ke rekan sejawatnya.
“Be-begitu ya.” Setelah tau nama anak itu, Izcatzin keliatan ga percaya, terhenyak, tapi sekaligus menyesal udah sembarangan nilai buruk anak dari Actassi, orang yang mengorbankan nyawanya 15 taun lalu agar dia dan Gatan lolos dari lubang jarum. “Tapi ngomong-ngomong … dari tadi lu tuh ngapain?” Ia bertanya pada Gatan yang sedari tadi jongkok di depan kulkas yang terbuka, lagi nikmati hawa dingin kulkas.
“Ehehhe, ngadem.”
“… Ini kan lagi dingin-dinginnya?” Kata Izcatzin keheranan.
“Aakkhh!” Kirxix bersaudara dikagetkan suara rintihan. “Bir gw mana? Kemarin gw tinggal di sini, kok hilang?” Gatan terlihat menggila di depan kulkas, langsung micingin mata ke arah Izcatzin.
Sadar kalo lagi dituduh ngembat birnya, Izcatzin mengangkat kedua bahu sambil geleng-geleng kepala. Isyarat yang menunjukan kalo dia sama sekali ga terlibat atas raibnya bir Gatan. Sentinel berpangkat Maximus langsung pindahkan picingan matanya ke si adik di meja kerja. Croiss ga bergeming dari tumpukan berkasnya, biarpun lagi dapat ‘serangan mata’.
Gatan menusuk tajam dengan tatapannya seraya mendekat ke meja kerja Sang Archon, tetap ga ada reaksi.
Croiss, seolah tau dirinya bersalah tapi ga mau ngaku, mulai berkeringat diliatin dari jarak dekat. Mulai gelisah bolak-balik halaman berkas.
Klimaksnya, Gatan rebahan di atas meja kerja Archon, bikin Croiss menatap langsung picingan mata Gatan ke arahnya. Keringat makin banyak keliatan di pori-pori wajah Berserker terkuat se-federasi.
“Itu… itukan… kulkas gw, apa yang ada di dalamnya ya jadi hak milik gw lah.” Akhirnya Croiss mengaku, namun berusaha cari pembenaran dari perbuatan ngembat bir Wakilnya tanpa ijin.
“Ahah! Ternyata benar elu! Pake sok-sok berlaga kalem!” Seru Gatan seraya bangkit dari meja Archon lalu nunjuk-nunjuk Croiss. Bukannya marah, keki atau apa, cuma Gatan pengen mengerjai Croiss yang kerap keliatan kalem dan penuh wibawa aja. Jadi hiburan tersendiri liat rekannya gelisah begitu. “Sial, botol terakhir gw.”
“Ya elah, berapa sih? Berapa? Nih gw kasih dalant, beli sana segudang!” Kata Croiss mulai tinggalkan sikap wibawanya.
“Ah sudahlah, aku tak butuh dalantmu! Aku merasa dikhianati! Tak kusangka, sahabatku sendiri… bedebah! Hidup ini kejam!” Croiss cuma bisa bengong liat kelakuan absurd Wakilnya dengan mulut sedikit terbuka. Sedangkan Izcatzin ketawa kecil memerhatikan dramatisasi yang dilakukan Gatan.
“Pergi dulu ah. Duluan ya,” Croiss mengangguk, balas salam pamit Gatan. Si Sentinel berjalan menuju pintu keluar.
Langkahnya terhenti beberapa senti di depan pintu. Gatan ga bisa bergerak karena merasa jubah kebesaran Wakil Archonnya ada yang menahan. Ia tengok ke belakang guna liat siapa yang narik-narik jubahnya. Adalah Izcatzin.
“Gatan, menurut lu, apa gw harus minta maaf sekaligus berterimakasih ke anak itu?” Izcatzin menunduk dan ucapannya terdengar lemas kayak belum makan. Ada getir di hatinya, akibat sikapnya yang salah sangka terhadap anak didik Gatan. Belum lagi perdebatan yang sampe bikin Pria di depannya jengkel.
Izcatzin ga menampik kalo perbuatannya terhadap Lake agak keterlaluan. Apalagi, setelah tau bahwa Lake itu anak Actassi. Rasa bersalah makin berkecamuk deh.
Yang ditanya ga langsung jawab. Dia balik badan, menghadap ke wanita di depannya. Lalu, angkat dagu Izcatzin dengan telunjuk dan menatap dalam bola mata kehijauan wanita tersebut.
“Lu wanita dewasa, bukan gadis remaja. Ga perlu tanya gw untuk tentukan apa yang harus lu lakukan.” Kata Gatan sekalem mungkin. Seolah kekesalannya sirna tanpa bekas, di luar dugaan Izcatzin, “lakukanlah apa yang menurut lu tepat.”
Rona merah kembali menghias wajah cantik Izcatzin begitu liat senyum Gatan tersimpul. Sekepul asap keluar dari ubun-ubunya. Ditambah, dari jarak sedekat ini, dan kata-kata mutiaranya. Bikin jantung Izcatzin serasa siap meleduk bagai MAU yang dibombardir di medan perang. Dia tertunduk lagi, kali ini berusaha sembunyikan ekspresi wajah yang dianggapnya malu-maluin dari pria yang dia suka.
“Kenapa … lu?”
G-gak … ga apa-apa kok.” Izcatzin jadi tergagap.
“Oke deh, duluan ya, dadah.”
Gatan pun berbalik dan berlalu dari ruang kerja Archon. Tinggalkan Izcatzin yang masih menatap punggungnya beberapa saat sampe dia belok di ujung lorong.
“Ahh… anak itu. Padahal dia 5 taun lebih muda dari kita, kok rasanya malah dia yang bimbing kita. Selalu ada jauh di depan.” Ucap Izcatzin pada Croiss, yang belum kelar-kelar juga mengurus berkas laporan. Jumlahnya udah banyak berkurang sih. “Seolah gw selalu jalan di belakang dia, mengejar punggungnya. Seolah dia selalu tau apa yang harus dilakukan di setiap situasi.” Lanjutnya.
“Itulah kenapa gw memilih dia buat jadi Wakil.” Croiss membalas perkataan kakaknya, setelah diam dengar obrolan mereka. “Dan ga pernah sekalipun ragu dengan keputusan yang dia buat.”
.
.
..Bellato Headquarter, Hanggar Armada Udara Bellato..
“Kepada para penumpang Pesawat transport tujuan Ether, harap melapor ke sistem administrasi. Sekali lagi, kepada penumpang pesawat transport tujuan Ether, harap melapor ke sistem administrasi. Pesawat akan lepas landas dari landasan satu, kurang dari 30 menit.”
“Aiiihh!” Gw mengerang dan taro tangan gw di kuping begitu dengar pengumuman dari toa Hanggar menggema. Karena gw berdiri pas di sebelah toa! Demm! Untung ga meletus ini gendang telinga.
Inilah Hanggar Armada Udara Belllato, yang terletak sekitar 3 kilometer di Barat daya Headquarter. Hanggarnya gede banget.
Bangunannya berbentuk bulat dengan atap kubah dibangun murni dari lempengan titanium. Senjata-senjata anti-aircraft siap siaga di sekeliling bangunan, siap menjatuhkan pesawat tempur musuh yang berani mengancam langit federasi.
Di sini tempat pesawat-pesawat tempur Bellato lepas landas ataupun mendarat. Ga cuma pesawat tempur sih, ada juga pesawat buat angkut penumpang ke daerah antah-berantah Novus dan distribusi logistik.
Hanggar ini ga cuma dipake sama Armada Udara doang, tapi mereka berbagi bersama Divisi Artileri Bellato. Makanya ga perlu heran, ada MAU dalam jumlah ga sedikit di sini. Beberapa Black MAU tipe Catapult lagi di maintenance oleh Teknisi Specialist, sedangkan lainnya tipe Goliath, ada yang udah stand by siap berangkat entah kemana.
Jadi ceritanya, abis pelantikan kenaikan pangkat, gw putuskan buat masuk Satuan Tugas Gabungan atau istilah bekennya Join Task Force. Begitu juga dengan Elka, kayak yang dia bilang, dia bakal ikut gw ke Satuan Tugas manapun.
Tadinya, gw berharap bisa ditempatkan di Resimen 1 yang dikomando langsung oleh Maximus Gatan. Eh, ternyata Resimen 1 isinya Prajurit- prajurit elit Satuan Tugas Gabungan yang udah pernah merasakan beragam rasa perang. Ga cuma asam-garam doang.
Ya, bisa dibilang level kemampuan mereka hampir setara, atau mungkin malah ada yang sama kaya Gatan. Singkatnya, gw ditempatkan di Resimen 18. Sedangkan Elka di Resimen 22. Wah, ga sesuai harapan Elka. Biarpun sama Satuan Tugas, tapi karena beda Resimen, ya misi yang dikasih pasti bakal beda juga, tergantung dari Resimen masing-masing.
Dan di sinilah gw, udah apik pake armor putih bercorak hitam khusus Sentinel, sibuk dengarkan suara yang dikeluarkan mesin-mesin pesawat sangat mengganggu karena gw emang punya kuping yang sensitif. Bau semerbak bahan bakar booster jet dan MAU terasa pekat menyapu hidung. Bikin gatal, alhasil gw jadi garuk-garuk hidung.
Belum lagi ditambah dentingan besi, dan suara Specialist lagi reparasi MAU. Rada bikin kuping pengang.
Hmm… Ether, Ether. Sedingin apa ya di sana?
“Jadi, hal pertama yang harus di cek-“
Ah jadi ga enak ama Elka, dia kan pengen liat Ether bareng gw, eh malah gw duluan.
“Adapun detail misi kali ini diantaranya-“
Wooow, cakep juga tuh Specialist perempuan yang lagi reparasi MAU. Pake tanktop ama hotpants doang lagi.
“Kesimpulannya- HEH! LU! DENGAR APA YANG GW JELASKAN GA SIH?!” Sangking asiknya mengobservasi hal-hal di sekeliling, kuping gw dijewer dan diteriakin dari jarak dekat. Sontak aja gw kaget dan tambah pengang.
“Adududuuh- kuping! Kuping! KUPING!” Faak! Gw meringis kesakitan, jewerannya bertenaga banget. Ditambah pula teriakannya itu lho, melengking sampe 4 oktap kali ya.
“Kalo orang lagi ngomong, dengarkan makanya!” Suara perempuan itupun kembali normal setelah melepas jeweran dari kuping gw.
6 orang lainnya berusaha menahan tawa liat gw kena omel Skuad Leader yang tadi lagi menjelaskan detail misi kita.
Ah, siapa ya namanya? Kalo ga salah tadi dia udah mengenalkan diri. Hmm, Berserker, Caters Sirvat Mess’Ennera. Yupp, itu namanya! Hah! Udah gw bilang, pendengaran gw sensitif. Bisa menangkap suara terus mengolahnya jadi informasi biarpun pikiran ke mana-mana. Hahaha!
Yah, dari segi muka, Ketua Skuad gw boleh terbilang lumayan cakep. Postur tubuhnya tegap dan rada berisi. Berserker banget. Pasti wanita ini tahan banting. Gw bisa liat otot lengannya yang ga ketutupan armor udah terbentuk dibalut kulit kuning gelap. Beuh, pantesan pedas banget dijewer pake itu tangan.
Biarpun tegap dan berisi, lekuk khas perempuan Bellatonya tetap nampak. Rambutnya hijau cerah, dicukur pendek di bagian belakang, tapi jambangnya dibiarkan memanjang sampe menjuntai lewati pipi.
POOOKK!
“UGH!”
Di saat alam bawah sadar lagi mengirim sinyal ke otak gw biar ga lupa gimana rupa Ketua Skuad baru, alias gw lagi bengong mengamati Sirvat dari atas sampe bawah, punggung gw ditepok keras banget.
“Biasa aja kali liatnya,” suara Elka terdengar meledek gw. Dia tau gw lagi perhatikan wanita yang berkulit lebih gelap itu dari tadi.
“Astaga, ngagetin aja sih lu ah!” Omel gw yang jantungnya nyaris lompat keluar, paling mengesalkan tuh kalo lagi bengong, terus dikagetin. Pikiran yang lagi jauh menjelajah, tau-tau dipaksa balik lagi ke badan.
Ternyata Elka ga sendiri, di belakangnya ada Maximus Gatan. Yah, agak jaga jarak gitu deh dari si Elka. Wah, rupanya mereka menyempatkan datang buat mengantar kepergian gw ke Ether untuk pertama kali!
“Ehehe.” Elka cuma cekikikan, “Hey, pokoknya lu harus balik dalam keadaan utuh!” Ancamnya serius. Ya iyalah, emang lu pikir gw bakal kepotong-potong di sana?
“Jangan meninggal di sana, repot ziarahnya.” Kali ini, giliran mentor gw yang kasih kata-kata ‘penyemangat’. Tanpa banyak omong, siku Elka mendarat di perut Maximus Gatan begitu selesai berkata-kata, “UHUGH!” Wo-woi woi… sopan dikit ama Wakil Archooon!
“Ahaha.” Gw pegang erat kedua bahu Elka, gw tau sebenarnya dia pengen banget ikut ke Ether. Terasa kekhawatirannya terhadap gw yang bakal jauh dari dia untuk waktu yang ga pasti. “Lu udah melatih gw dengan keras, Ka. Ga bakal gw pulang ga utuh.”
“Cium, cium, cium.” Gatan bersorak liat gw dan Elka.
“INI GA SEPERTI YANG ANDA PIKIRKAN!” Bentak gw. Benar-benar ya, ga ada wibawanya Wakil Archon satu ini.
“Berjanjilah…” pinta Elka singkat. “… janji kalo lu bakal pulang dengan selamat.” Lanjutnya. Entah kenapa gw bisa rasakan sisi lemah Elka saat ini.
Ampun deh, selalu aja cemasnya berlebih. Padahal gw udah bukan prajurit culun. Apa boleh buat, bila cuma itu yang bisa bikin dia tenang, “Okey, janji. Hehe.”
Abis itu, gw beralih ke mentor gw.
“Huuu… ga seru ah. Ga ada cium-mencium.” Ujarnya dengan nada meledek. Anjiiir dah ini orang! Makin lama kenal kok makin ngelunjak.
“Ma-Maximus, saya mohon… CARI ISTRI SANA!” Gw balas aja ledekannya. Eh, dia diam pas gw gituin. Mukanya bersungut-sungut, seolah ga percaya gw berani berkata kurang ajar ke mentor yang udah kasih ilmu berharga.
“Pfffft…” Ga lama, kita tahan tawa bareng, lalu lepas bersama-sama juga. “Ahahahahaha!”
Tapi mungkin kalo Maximus Gatan, ketawa dipalsukan kali ya. Dibalik tawanya itu tersimpan rasa miris kenapa di usia nikahnya, dia masih sendiri. Au ah, bodo. Rese sih lagian.
“Saya serius lho tadi,” mendadak tawanya berhenti, “jangan meninggal ya di sana,” kepalan tangannya memukul pelan bahu gw.
“Saya akan berusaha semaksimal mungkin buat pertahankan nyawa, Maximus.”
Akhirnya, tiba saat pesawat lepas landas gw dan anggota skuad udah ambil posisi duduk masing-masing. Sebelum berangkat, terdengar speaker di langit-langit pesawat menyala.
“Laahooo semua, selamat pagi! Saya akan jadi pilot anda untuk perjalanan ke Ether kali ini. Major Hevoy Kene dari Skuadron 2 ‘Terror Wave’, Bellato Air Force. Dengan pengalaman lebih dari 6000 jam terbang. Hahaha! Bersama Co-pilot di sebelah saya, Captain Thisack Bonnsana.” Suara lelaki nge-bass keluar dari speaker tersebut.
“Ah berhentilah menyombongkan jam terbang dan bawa kami ke Ether secepatnya, Hevoy!” Geram Sirvat kepada si Pilot.
“Tsk, tsk, tsk… Sirvat, Sirvat, dari dulu selalu deh. Ga pernah nyantai. Ya kan, Thisack?”
Ga ada jawaban dari si Co-Pilot. Yah cian, dikacangin.
“Haha, dan lu masih ga berubah ya!? Masih aja dicuekin terus ama Co-pilot lu sendiri.” Dari cara bicara mereka berdua, ga salah lagi. Mereka pasti saling kenal.
“Ah udahlah, kencangkan sabuk pengaman! Jangan ada yang berdiri ketika pesawat lepas landas!” Perintah sang pilot.
Pas pesawat udah mengudara, tiba-tiba ada yang berbisik di telinga gw. “Heyy, heyy, apa lu anggota baru?”
Ternyata lelaki yang duduk di sebelah gw mengajak ngobrol, “Umm, ya. Gw baru aja dilantik jadi Sentinel kemarin lusa.” Jawab gw.
“Wah, sama dong. Gw juga baru jadi Shield Miller. Berarti kita satu angkatan.” Dia terdengar senang menemukan teman sebaya, wajahnya jadi sumringah. “Kenalkan, nama gw Ish’Kandel.” Katanya mengenalkan diri seraya mengulur tangan.
“Lake.” Gw balas uluran tangannya.
“Lake…” Tau-tau ekspresinya berubah pas denger nama gw. Matanya mengusut curiga. Dahinya berkenyit, seolah ga percaya apa yang dia dengar. Ugh! Mukanya ga enak diliat! Selalu kaya gini tiap orang tau nama gw. Cih, di saat gw berharap mulai bisa diterima oleh orang lain. “Wow, nama unik yang gampang diingat! Salam kenal ya!” Ucapnya dengan nada ceria sambil lempar senyum lebar.
“A-ahaha.” Gw ketawa canggung pasang muka blo’on liat kelakuannya, setelah salah sangka menginterpretasikan ekspresi sebelumnya. “Banyak yang bilang gitu sih,” Barangkali dia bukan orang yang kaya begitu.
Hmm, entah kenapa gw merasa muka lelaki ini kok ga asing ya. Rambutnya kuning pendek, acak-acakan kaya ga pernah di sisir. Sikapnya ramah, tapi itu nabrak ama matanya yang punya sorot setajam belati Goliath.
Struktur muka itu, kaya sering gw liat di suatu tempat. Tapi dimana? Yang terpenting, mirip siapa? Belum rampung mikirin pertanyaan itu, dia bertanya ke gw.
“Lu Sentinel, berarti dari Ranger Corps kan?” Gw mengangguk untuk kasih jawaban.
“Kenal ama Hash’kafil dong?”
“Yaa, ga begitu kenal sih. Sekedar tau aja.”
“Sekarang gw tanya, Lake Grymnystre. Apa hal yang lu perjuangkan?” Pertanyaan Hash’Kafil lebih dari setaun lalu berdengung di kepala gw. Pertanyaan yang sampe sekarang belum gw temukan jawabannya. Oh ya, kenapa ini anak nanya-nanya tentang Hash?
“Dia itu kakak gw.” Pernyataan yang bikin gw cengo sejenak dengan mulut setengah nganga. Baru kemudian, kaget ga karuan.
“HAH? Lu… adeknya Hash? Hash … Hash punya adek?!”
“Sebenarnya sih kita kembar. Dia cuma lebih tua 3 menit.”
“HAH?! KEMBAR?!” Volume suara berusaha gw tahan serendah-rendahnya, biar ga mengganggu penumpang lain.
Liat reaksi gw, dia cuma mengangguk dan senyum-senyum ga jelas.
Pantesan berasa mirip siapa gitu. Ga.. ga, abis gw teliti lagi, MIRIP BANGET! Lesung pipinya, dagu, warna mata yang sama kaya rambut, bentuk alis. Kalo dia memanjangkan rambut, terus rambutnya dicepol kaya Hash, gw yakin ga ada yang bakal sadar mereka tertukar. Yaaa, selain dari warna rambut mereka yang beda.
Pantas, nama mereka juga setipe. Hash’Kafil dan Ish’Kandel Ilkash. Benar-benar ga menyangka, ternyata Hash’Kafil ada versi laki di Warrior Dept.
“Heyy,” selesai Ish ngomong, kali ini suara ketua skuad menyapa gw.
“Si-siap, Caters!”
Dia bangkit dari tempat duduknya, “Tadi di Hanggar gw ga sadar, apa lu… Lake Grymnystre?” lalu mendekatkan wajahnya ke muka gw.
Dekat banget, sampe gw bisa merasakan napasnya berhembus. Wa-waduh. Diliatin dari dekat gini ama perempuan bisa bikin hilang konsen.
“Y-ya, saya Lake- uhm … Grymnystre,” Mata krem terangnya menyipit coba pastikan asumsi.
“Lake yang itu!? Yang pernah bertarung seimbang lawan Rokai Leiten!?” Gw bisa liat binar dari tatapannya, berharap kalo gw beneran Lake. Dibilang seimbang sih, ga juga. Secara gw hampir mati dulu.
Gw mengangguk aja deh buat jawab rasa penasarannya, biarpun ga tau apa yang dia mau.
“Gyaaa! Aku fans berat kamu lhooo!” Hesemelewenesbil! Dia langsung meluk-meluk gw tanpa pikir panjang. APA LAGI INI?!
“HA-HAAAH?! Maksudnya?!” Gw agak berontak dari pelukannya, karena bikin sesak! Edan Berserker, meluk aja berasa diremukin ini badan.
“Iya, aku nonton pertarungan kamu itu. Dan kagum banget dengan kegigihanmu lawan calon Spirirualist terkuat dalam sejarah federasi.” Katanya senang. Beda banget ama tadi pas di Hanggar. “Tau ga? Warrior aja kesusahan lawan Rokai sampe ampun-ampunan. Eh, tau-tau ada Ranger yang bisa mengimbangi dia. Setelahnya, kamu jadi bahan gosip para perempuan di Warrior Dept.”
E-emang, segitu hebatnya ya? Perasaan biasa aja.
“Di tengah arena, aku memahami sakit yang kamu alami. Tapi kamu ga berhenti. Ga, malah determinasimu terasa makin kuat. Walaupun busurmu patah dan cuma modal Beam Arrow, cahaya di bola mata ungu itu ga pernah pudar, separah apapun tubuh kecilmu kena serangan Force. Apalagi pas akhir-akhir, kamu kena mantra Implode dan nyaris ambruk ke belakang, dan ternyata kamu melawan gravitasi supaya tetap berdiri! Aakh! Ga kuat!”
Aduhh… udah dong, udah! Jadi senyum-senyum sendiri kan gw disanjung mulu, “A-ahaha, ga kok. Itu cuma beruntung aja. Beneran deh, ga ada yang spesial.”
“Aku suka lho sama kamu, mau ga kalo kapan-kapan kita kencan?” Buset dah ni cewek, berani amat yak! Apa semua Berserker perempuan kayak dia? Mukanya juga makin mepet ke gw. Pelukannya makin kencang. Uh, gw bisa merasakan dua … bola … kenyal … di dadanya.
Jujur, kalo ada kaca, pasti merah semua muka gw. Aslilah, antara tahan malu atau napsu, udah ga tau. Ini pertama kalinya ada wanita yang bilang suka ke gw. Gw ga tau harus bilang apa. Bahkan ga tau apa gw suka perempuan kayak Sirvat.
“O-oke, Caters. Tapi bisa ga, lepaskan saya dulu? Sesak nih … atas bawah … uugh.”
“Upss … maaf. Hehe.” Sirvat pun melepas pelukannya dan menjauh. “Asik, tadi kamu bilang oke kan? Janji ya berarti. Daaah.” Ucapnya riang lalu balik ke tempat duduknya.
Huwaaat? Gw belum bilang apa-apa woyy! Maksudnya ‘oke’ tuh, ma-maksudnya … ‘oke, gw akan jawab, tapi lepasin dulu pelukan lu dari gw’! Bukan, ‘oke setuju ama permintaan lu’! Arggh!
Gw melirik ke Ish’Kandel, yang dari tadi pasti liat adegan barusan. Dia lagi terbengong-bengong ke arah muka gw yang masih memerah padam.
“Bro, lu beruntung banget.” Dia menepuk bahu gw dan bilang begitu. Demm, gw ga nganggap hal malu-maluin itu sebagai keberuntungan.
“Beruntung pala lu rengat!”
.
.
Setelah 5 jam bermanuver di udara, akhirnya pesawat yang gw tumpangi diizinkan mendarat oleh menara kontrol di Bellato Wharf, tempat pesawat-pesawat menurunkan penumpang bertujuan Ether. Pulau penuh salju yang menggantung di langit ini berada di Utara Novus. Normalnya, ga bakal makan waktu ampe 5 jam, cuman tadi begitu udah mendekati Ether, Air Traffic Controller mengirim pesan bahwa cuaca ga memungkinkan buat mendarat.
Malah, sempat terjadi adu mulut antara Sirvat, Hevoy, dan menara kontrol. Soalnya, kita disuruh putar balik.
…
-Beberapa menit sebelumnya, kokpit-
“Pokoknya ga mau tau! Kita harus mendarat biarpun harus nabrak!” Bentak Sirvat.
“Kita?! Lu aja sono yang nabrak! Gw mah ogah!” Balas Hevoy.
“Tenang, tenang Pilot Pesawat Transport BEO-212. Berputarlah lagi sebelum mendarat, semoga badai saljunya sedikit mereda.” Jawab menara kontrol.
“Ah! Banyak bacot lu!” Sirvat makin geram dengar pesan tersebut.
“Kita udah berjam-jam berputar sampe pusing!” Hevoy pun menimpali.
Sirvat menggebrak radio pesawat sangking kesalnya, untung cuma pake tangan kosong. Keliatannya sih ga apa-apa.
“Woiii! Perempuan sarap! Bisa rusak! Itu Radio bagian penting dari pesawat! Gimana gw komunikasi dengan menara kontrol kalo rusak?!”
“Bodo!”
Ha… ha… ha. Apa wanita feminim udah punah dari Bellato?! Yang pendiam gitu, pemalu, anggun atau imut-imut kek. Perasaan, gw kenal lawan jenis macam preman semua. Kacau.
.
.
“Oke semua, kumpul dulu.” Perintah Sirvat begitu kita menginjak Bellato Wharf. “Sekali lagi gw mau jelaskan detail misi. Sebelumnya, ga perlu formalitas deh ama gw. Capek juga lama-lama.” Suaranya terdengar penat akibat marah-marah.
Bah, gw sampe lupa sebenarnya tujuan perjalanan ke Ether ini ngapain.
“Berdasarkan laporan Intel, hasil kerjasama dengan Divisi Sains dan Teknologi, telah ditemukan jenis batuan baru di Ether.” Hmm? Tu-tunggu dulu. Masa sih? “Mereka menyebut batu ini dengan nama Etheron. Adapun diperkirakan lokasinya terdapat di White Hole, atau sekitarnya. ” Ini… yang waktu itu diceritakan Alecto! Batu yang waktu itu gw anggap remeh keberadaannya.
“Rumornya sih batu ini lebih kuat dari talic. Kalo persenjataan ditempa pake Etheron, bisa lebih besar daya hancurnya dari Relic. Maka, atas permintaan Maximus Khortenio yang mengepalai Divisi Sains dan Teknologi, Skuad pertama dari Resimen 18 Satuan Tugas Gabungan ditugaskan buat mencari Etheron, ambil sampel dari objek yang dimaksud, lalu kembali ke Headquarter. Intinya, ini cuma misi pengamatan aja. Sebisa mungkin hindari kontak dari para kaleng karatan ataupun penyihir sok alim.” Jelas Sirvat panjang lebar. Wahh, di saat lagi brifing gini kerasa banget karismanya sebagai Skuad leader.
“Oke, ada yang kurang jelas?” Ga ada satupun dari kita yang nanya. “15 menit lagi kita berangkat. Bubar!”
Wiiii! Dingiiin. Walau Armor Bellato dilengkapi pengatur suhu, tapi udara yang gw hirup serasa bikin paru-paru beku. Tiap kali hembuskan napas, asap putih keluar dari mulut dan hidung menandakan perbedaan drastis antara suhu lingkungan dan tubuh gw. Sejauh mata memandang, terhampar padang salju tanpa batas. Putih adalah warna favorit gw, dan ini pertama kalinya gw liat pemandangan serba putih. Lokasi lain mah ga bakal ada yang begini.
Di luar Wharf, badai salju yang sukses bikin kita berputar-putar udah lebih reda. Meski hujan salju masih terjadi, tapi ga separah tadi.
Gw makin penasaran, ada apa di luar sana. Di balik tirai putih yang menutupi seluruh permukaan Ether, misteri apa yang nunggu untuk naik ke permukaan.
“Selamat datang di Ether, Resimen 18!” Terdengar suara pria mengucap salam buat kami. “Ahh, Sirvat! Gw liat ada beberapa anak baru nih.” Ia langsung menyapa Skuad Leader berkulit gelap itu.
“Oritzi! Ngapain di sini?” Sirvat keliatan terkejut senang liat kawannya. Di belakang pria itu ada sesosok perempuan berambut pink yang kayanya malu-malu.
“Perintah Maximus Izcatzin, Divisi ke-4 Artileri diminta sebagai tenaga tambahan. Ya udah deh, di sinilah gw. Hahah.”
“Serius?! Lu bakal ikut kita? Bawa berapa orang dari Divisi 4?”
Diapun bersiul dengan irama tertentu untuk memanggil anak buahnya, yang berada di sekitar Wharf. Begitu dengar siulan si Pria ini, beberapa orang berkumpul dan baris di depan kita. Ada 5 orang termasuk si pria yang bernama Oritzi. 2 diantaranya perempuan.
“Kenalkan diri kalian masing-masing.” Perintahnya.
“Major Inaki Khulzi, Armor Rider dari Divisi ke-4 Artileri Bellato.”
“Captain Chubasca Jev, Armor Rider dari Divisi ke-4 Artileri Bellato.”
“Captain Gaizka Uhusto, Shield Miller dari Divisi Ke-4 Artileri Bellato.”
“Caters Darr Kandarr, Infiltrator dari Divisi Ke-4 Artileri Bellato.”
“Royal Oritzi Istoris, Armor Rider dari Divisi ke-4 Artileri Bellato.”
Mereka gantian mengenalkan diri dari kiri ke kanan. Yang namanya Darr dan Chubasca adalah perempuan. Semoga aja tabiatnya ga kaya skuad leader gw. Kebanggaan tersirat dari sikap mereka jadi bagian dari Divisi Artileri.
“Wah bagus, bagus. Tapi di skuad lu ga ada pemakai Force, apa?” Tanya Sirvat.
“Hmm? Ah, heyy, ayo ga perlu malu. Kenalkan siapa dirimu.” Ujar Oritzi pada perempuan yang dari tadi sembunyi di belakang punggungnya. Aihh, imuuut! Di saat gw pikir gadis imut nan pemalu udah punah.
“A-aku… Captain Meinhalom, Wizard dari… Divisi ke-4, Artileri Bellato.
Meinhalom… nama yang cukup unik.
Tau-tau pas lagi perhatikan wajah mereka satu-persatu, bahu gw ditepuk dari belakang. Gw tersentak pas liat siapa pelakunya. Dia ada di sana, pas kejadian Isis waktu itu… Jizzkar.
Jadi dia di sini juga?! Hmm, emang sih kalo ga salah dia memanggil Gatan ‘Komandan’ pas di Sette. Berarti dia bagian dari Satuan Tugas Gabungan juga dong? Ada urusan apa kali ini… setelah dia melakukan semua itu ke gw.
“Uhh, gw… harusnya berterima kasih pada lu. Berkat lu, gw masih ada di sini.” Ucapnya canggung. Mungkin, dia merasa ga enak karena tempo hari dia balas air soda yang gw kasih dengan air comberan. “Dan … gw minta maaf, beribu maaf,” Tangannya terkepal, dia tertunduk seolah tahan malu.
“Pas Maximus Izcatzin menuduh lu pengkhianat … padahal gw ada di sana… ta-tapi… yang gw lakukan… yang gw lakukan justru berlaga bego… cuma berdiri tanpa berani membela,” Suaranya bergetar penuh penyesalan. Dia kumpulkan segenap keberanian buat minta maap ke gw.
“Gw tau lu pasti marah, benci gw yang biarkan orang lain jadikan lu obyek kesalahan mereka. Ga ada seharipun gw lalui tanpa pikirkan hal hina itu. Gw berharap bisa kembali ke ke masa lalu dan… dan memperbaiki sikap… benar-benar ga terhormat! Tolong! Pukul gw! Tembak gw pake busur lu! Gw pantas menerima itu semua!” Duh, kesian juga liat senior memelas begini.
Padahal gw udah gak terlalu mikirin lho.
“Wow, wow, santai bung. Santai,” setelah cukup lama dengarkan dia ngoceh, gw buka suara, “Pertama, gw ga benci lu. Iya, gw sempat marah. Tapi, ya cuma awalnya aja. Sekarang udah enggak.” Sebenarnya dulu sih gondok benar, tapi semua udah gw anggap angin lalu. Toh gw juga pasrah-pasrah aja pas semua terjadi.
“Kedua, seumur hidup gw jalani dengan banyak pasang mata memandang rendah pada gw. Ya, gw pernah merasakan kebencian lebih dari itu. Persetan, gw masih tetap hidup. Gw bukan tipe yang ambil pusing terhadap gunjingan orang. Percuma, ga bakal ada abisnya. Ketiga, gw ga bakal mukul lu, atau menembus badan lu pake panah. Buang-buang tenaga aja. Lagian, kita sesama Bellatean, saling membutuhkan. Di luar sana ada musuh sebenarnya. Yang berlalu udah berlalu. Ga masalah walau lu ga bisa mengulang kembali waktu, yang penting terus hidup kedepan untuk tebus kesalahan lu dibelakang.”
Jizzkar terdiam, keliatan matanya berkaca-kaca. Lah? Lah? Lah? Kok malah nangis? Gw salah ngomong kali ya?
“Lu… orang yang berjiwa sangat besar!” Serunya.
“Hah?! Eh- ehm, yah… iya deh terserah. Apa lu kata aja udah benar,” Gw udah ga tau mau ngomong apaan.
“Gw akan merasa sangat terhormat bertarung di sisi lu.”
“Ahaha, lebay lu ah,” diapun beranjak pergi untuk bersiap, udah waktunya berangkat ke White Hole.
Skuad pertama Resimen 18 Satuan Tugas Gabungan yang ditugaskan total berjumlah 8 orang. Gw, Ish’Kandel, Sirvat, Jizzkar (Dipindah tugaskan sementara dari Resimen 1. Pasti kerjaannya Maximus Gatan) , Namaste; Holy Chandra, Samus; Infiltrator, Rhenesagg; Hidden Soldier, dan terakhir Ulkatoruk; Holy Chandra.
Selain Sirvat dan Jizzkar, kami berenam masih tergolong prajurit yang baru dilantik jadi class akhir. Alias masih berpangkat Captain. Dan ini misi pertama kami di Ether. Cuma ambil dan pulang, kan? Bisa lah. Semoga.
Divisi Artileri stand by di Wharf bersama pasukan penjaga, siap siaga akan memberi bantuan bila dibutuhkan. Gw berharap kita ga akan terjebak situasi di mana kita butuh mereka.
Begitu kita udah jauh dari Wharf, Sirvat menginstruksikan pada para Ranger buat jalan duluan. Mengamati area jauh di depan. Rhenesagg dan Samus sigap beranjak. Sedangkan gw… “Lho, kamu ga ikut? Kamu kan Ranger.” Ah iya! Ucapan Sirvat menyadarkan gw. Yah ketinggalan deh.
Rhenesagg dan Samus udah berada jauh di depan. Entah dimana posisinya, gw coba kontak dari komunikator tapi ga ada jawaban. Sementara hujan salju dari tadi masih belum berhenti, malah tambah lebat kayanya.
Cuaca makin ga bersahabat. Sekarang ditambah lagi ama kabut cukup tebel membungkus sekeliling gw. Sebenernya gw ragu buat melangkah lebih jauh. Dibelakang, Sirvat dan lainnya masih dalam jarak pandang.
Ughh, perasaan aneh apa nih? Gw merasa banyak pasang mata lagi memerhatikan kita-kita. Shite! Gw harap cuma perasaan aja. Dari dulu, biarpun kemampuan berantem gw pas-pasan, tapi insting gw terbilang tajam. Akibat pengaruh skill Accel Walk juga barangkali.
Ga cuma pendengaran gw yang sensitif, tapi semua indra gw sama tajamnya. Kalo merasa ada yang lagi liatin gw, biasanya… emang beneran ada. Salju di bawah sepatu gw terasa menebal. Bikin langkah gw sedikit lebih berat. Gw ga suka perasaan gelisah ini, ada yang ga beres. Gw berhenti sejenak buat cek keadaan sekeliling. Ga keliatan ada tanda-tanda siapapun. Tapi, gw yakin dari balik kabut itu ada sesuatu.
Mendadak sesosok siluet tubuh kecil mendekat ke arah gw dari depan. Jalannya keliatan sempoyongan. Gw samperin aja. Begitu mendekat, baru keliatan mukanya. Dia Samus! Tubuhnya tersungkur yang langsung gw tahan pake kedua tangan.
“SAMUS! Lu kenapa?!” Tanya gw terkejut, “Mana Rhenesagg?” Mulutnya bergerak, berusaha bilang sesuatu tapi rasanya susah banget.
“Co-Cora…” Ucapannya lirih dan lemah. Samus langsung hilang kesadaran.
“Cora?” Ga berapa lama, dari tubuh Samus tiba-tiba muncul sebuah anak panah beam. Rusuknya tertembus anak panah itu! Tapi, dari mana datangnya anak panah ini? Tadi tuh ga ada, dan gw ga merasakan ada yang menembakkan busur pas tubuh Samus gw pegangi. Panah ini muncul gitu aja dari badan Samus… kaya… kaya… “Cora…”
Cuma satu jawabannya, Cora punya cara buat bikin anak panah mereka ga terlihat. Apa mungkin?
“Lake! Apa yang…” Tukas Sirvat begitu sampe di posisi gw. Liat Samus ga sadarkan diri, tentu yang lain ikut syok.
“Entah, Rhenesagg ga ada kabar. Heyy! Tolong dong medis!” Bentak gw pada kedua Holy Chandra yang cuma bengong, padahal ada prajurit butuh perawatan.
Perasaan gelisah dan merasa diperhatikan makin kuat gw rasakan. Siapa? Dari mana? Kesekian kali gw liat sekeliling, hanya terlihat kabut menutupi dataran salju.
“Andai kita bisa singkirkan kabut ini.” Jizzkar berharap kabut cepat hilang supaya ga batasi pandangannya.
“Gw bisa.” Salah satu dari Holy Chandra, Ulkatoruk, berkata. “Kebetulan, gw fokus ke Force air dan udara.” Sementara Namaste mengobati luka Samus.
Deg! Deg! Deg! Deg! Tempo detak jantung gw bertambah cepat. Ga salah lagi, ada yang ga beres.
Dia pun berdiri dan memusatkan sejumlah force di telapak tangan kanannya. Dengan gerakan lembut, dia menggerakkan tangannya menyapu arah dia menghadap dari kiri ke kanan, dan perlahan kabut di sekeliling kita mulai bergerak menjauh.
“Enggak! Jangan, jangan!” Seru gw.
Terlambat, Ulkatoruk membuat kabut menjauh. Membuka tirai putih yang dari tadi membungkus kita rapat-rapat. Kami, 6 Bellatean di tengah padang salju, ga pernah merasa sekaget ini. Setelah kabut disapu bersih, terlihat jelas di tiap pasang mata masing-masing dari kami sejumlah pasukan… Corite! Yang kayanya dari tadi udah berada dibalik putihnya kabut. Mereka manfaatkan terbatasnya jarak pandang guna menyergap pasukan kami!
1, 2, …, 10. Jelas sudah kenapa gw merasa ada yang mengawasi. Ternyata para Cora udah memantau gw, dan yang lain dari balik kabut ini. Mati! Pasukan kami berada di tengah kepungan mereka yang menodongkan senjata ke arah kita. Buruk! Gawat!
Liat keadaan ini, langsung Ulkatoruk melakukan gerakan kebalikan dari yang tadi. Kali ini tangannya gerak dari kanan ke kiri dengan satu sapuan cepat. Kabut yang tadi dia jauhkan, langsung balik membungkus kita lagi. Gerakannya tuh kaya gw menarik selimut pas mau tidur, tapi dia melakukannya sambil berdiri.
“Aduh… mampus nih kita.” Ujarnya menyesal.
“Kan udah gw bilang, jangan.”
“Sirvat, gimana nih?” Ish’Kandel bertanya ke Sirvat yang keliatan lagi bingung gimana cara kabur dari situasi ini.
“Cih,” Gadis tersebut ga berkata apa-apa, cuma mendecih didesak keadaan.
Seketika ketegangan merembet sepanjang tulang punggung kami. Rencana awal menghindari kontak sebisa mungkin dengan musuh kayanya bakal berantakan. Pada akhirnya, kenyataan ga bisa diprediksi sama sekali. Faak! Disergap plus kalah jumlah. Apa bisa lebih buruk lagi?
“To be strong or weak, that’s an option. The point is, stop trying so hard to be someone who aren’t you. Try to appreciate yourself once in awhile.” – Rokai (Ch.5)
CHAPTER 10 END.
Next Chapter > Read Chapter 11:
https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-11/
Previous Chapter > Read Chapter 9:
https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-9/
List of Lake Chapter:
https://www.pejuangnovus.com/lake-list