LAKE CHAPTER 1 – THINGS TO FIGHT FOR

Lake
Penulis: Mie Rebus
“Yakin dia orangnya?”
“Ya, ga salah lagi”
“Siapa … kalian?” Gw bertanya dengan suara lirih pada kedua orang yang lagi berbincang di ruang gelap. Di ruangan ini gw tiduran di atas altar batu, dan kepala rasanya berat banget. Kayaknya suara gw ga bisa didengar oleh mereka karena mereka tetap asik ngobrol tanpa peduli pertanyaan barusan.
“Kok keliatan biasa aja? Ga meyakinkan.” Kata sesosok bayangan yang gw yakin dari ukuran, dan bentuk tubuhnya adalah seorang bellato wanita.
“Oi, jawab pertanyaan gw! Siapa kalian, apa yang kalian mau?!” Kali ini gw bentak mereka dan berusaha bangun dari posisi tiduran, tapi percuma. Mereka tetap ga dengar, badan ini pun ga mau bergerak.
“Masa kamu meragukan keturunan sendiri? Biar begini pun, dia tetap seorang Grymnystre.” Sosok bayangan kedua balas berkata kepada si bellato wanita, kali ini bentuk tubuhnya gw rasa dia bellato pria.
Suara mereka parau ga jelas, bak disamarkan. Anehnya, gw tau kalimat-kalimat yang keluar dari mulut mereka. Jadi cuma bisa menebak gendernya dari gesture dan lekuk tubuh aja.
“Aku tau, tapi anak ini masih terlampau hijau! Masih banyak yang harus dia pelajari! Jangan sampai dia gagal kaya generasi sebelumnya!”
“Tenang, dia masih akan terus berkembang.” Ucap si pria dengan tenang. “Kemampuan adaptasi dan penalarannya di atas rata-rata.”
Keliatan banget kalo bellato wanita begitu meremehkan gw. Dengan nada tinggi, dia protes. Bodo amat deh mereka mau ngapain. Dari tadi nanya, ga didengar sama sekali. Salut buat si bellato pria yang tetap tenang dan tahan dengarkan ocehannya. Gw harus berguru ke dia.
Tetiba pemandangan gelap ruangan tadi berganti. Masih dengan posisi telentang, gw liat poster Ranger Corps gede banget di langit-langit. Celingak-celinguk sebentar, ternyata altarnya udah ganti jadi kasur, sinar matahari menyusup dari celah gorden dan silaukan mata. Kebetulan gw menempatkan kasur di sebelah jendela, bagian timur kamar.
Ruangan ini ga mewah-mewah amat. Yah, namanya juga mesh tentara. Kamar ukuran 4×4 dengan perabot seadanya ala lelaki. Kasur, meja belajar di samping kasur, monitor LCD multi fungsi yang menempel di tembok di depan meja belajar. Daaan fasilitas eksklusif! yaitu kamar mandi! Untung Federasi berbaik hati memberi 1 kamar mandi di tiap kamar. Ga kebayang kalo harus pake kamar mandi bersama, gimana kalo suatu saat gw kebelet ‘ngebom’ dan harus ANTRI? Faak.
“Ugh, mimpi itu lagi. Ada pertanda apa ya?” Gw bertanya ke diri sendiri seraya pijat jidat, tahan rasa pusing gara-gara mimpi ga jelas semalam. Udah beberapa hari ini mimpi tersebut jadi bunga tidur tiap malam. Sampe hapal adegan-adegannya, percakapannya.
Uft … gw pengen bangkit dari kasur ajaib ini. Kenapa bisa dibilang ajaib? Karena ada magnetnya! Arrggh! dia mencegah tubuh gw untuk beranjak dari kelembutannya!
Pas lagi asik bermesraan dengan kasur dan bantal tercinta, tau-tau pintu kamar digedor.
“Lake, bangun hey! Lu pikir jam berapa sekarang?!” Suara perempuan yang amat familiar terdengar teriak-teriak di luar sana. Gw tutup kuping pake bantal, lalu tarik selimut sampe menutup seluruh tubuh.
Tentu gw tau jam berapa. Sekarang udah waktunya menghadiri kelas pendidikan bagi Kadet pelatihan Ranger Corps. Tapi sial, gw lagi malas.
“… Hoo, pura-pura tidur ya?” tanya dia sarkas, “okelah kalo gitu… lu yang maksa~” katanya, sambil bersenandung sok imut. Duh malah merinding kalo dia udah begitu.
Dan benar aja, pintu geser dari campuran baja putih dan titanium digeser paksa! Geblek ni cewek, makan apaan yak kuat begini!?
Langkahnya makin dekat. Setelah dekat banget, tangannya yang berkulit halus meraih pergelangan kaki, lalu gw ditarik paksa dari kekasih-kekasih yang senantiasa temani tidur tiap malam! (red: kasur, bantal+guling).
“Kalo udah bangun tuh cuci muka! Sikat gigi!” Sambil berseru, dia tarik gw dari atas kasur sampe jatuh tengkurap.
“Argh! Ogah! Masih mau tidur!” Gw melakukan perlawanan seadanya dengan pegangan ke salah satu kaki ranjang, dan itu malah bikin dia makin ngotot nyeret ke kamar mandi.
“…”
Namun sesaat dia terdiam. Mengira kegigihan gw membuahkan hasil, dalam hati gw bersorak, “Yesss! Nyerah juga kan akhirnya.”
Ternyata agaknya gw salah. Dia mengapit pergelangan kaki gw di ketiaknya, lalu dengan satu sentakan, kaki gw dipiting!
“Uurrgghaa! Kaki, kaki, KAKI! Iyaiyaiya! Cuci muka! Iyaiya sikat gigi!”
“Hehehe, gitu dong.”
“Gitu dong, gitu dong pala lu rengat! Kaki gw ga perlu diplintir juga kali!” Menggerutu sambil berdiri, pas udah di atas dua kaki, gw punggungi dia, “ganggu ketentraman aja.”
Perempuan itu gak berujar apapun. Malah sebelah tangannya pegang bahu gw, kali ini tanpa tenaga. Lalu dia menyebut nama gw.
“Lake …” pelan banget. Hampir berbisik, tapi masih bisa didengar.
“Hmm?” Gw balik badan. Sekarang kita berhadapan. Penampilan kami begitu kontras. Gw yang masih pake kaos tidur dan celana pendek, rambut abu-abu sasak pendek masih berantakan, dan semalam pasti abis ngiler … soalnya ada semerbak bau abstrak gitu.
Beda 180 derajat dengan perempuan ini yang pagi-pagi udah pake armor Ranger warna merah strip putih lengkap dari kepala sampe kaki. Poni rambutnya panjang, menutupi mata kanan gadis itu. Sinar matahari yang masuk ke kamar, memantul di rambut coklat yang diikat gaya ekor kuda, dan bikin rambut indahnya makin indah.
Beberapa saat kami kayak gini, tubuhnya makin dekat. Kedua tangannya mendekap lembut pipi ini. Wajah manis perempuan itu cuma terpisah beberapa senti aja dari wajah gw. Tinggi kita hampir sama, dia cuma sedikit lebih pendek. Kedua tangannya arahkan kepala gw sedikit ke bawah agar mata kita bisa saling beradu. Sepasang mata coklat memandang jauh ke dalam mata ungu.
“Mata lu … indah. Seperti biasa.” Dia berkata, sambil kasih senyuman yang bikin hati tiap Bellato pria dijamin bakal terkapar ga berdaya. Senyuman pagi yang bikin hati gw adem, hehehe.
Si perempuan ini bernama Elkanafia Yeve Nordo, biasa dipanggil Elka Nordo biar singkat. Kita udah berteman sejak … errr, lupa sejak kapan sangking udah lama banget. Dia udah ada di kehidupan gw semenjak belum bisa lap ingus sendiri. Dan ga tau kenapa, dia bilang suka banget mata gw yang berwarna ungu, makanya dia sering banget melakukan hal ini. Biasanya pagi-pagi, abis gw bangun tidur seperti pagi ini.
Tiap kali dia lakukan itu, gw cuma bisa ketawa kecil dan bilang, “Makasih lho,” sambil usap-usap kepalanya.
.
.
…Novus, Bellato’s Headquarter…
Setelah bangun tidur dengan cara yang lebay pagi ini, inilah gw! Lagi berbaris manis bersama para Ranger lain yang tergabung dalam Ranger Corporation, termasuk Elka, berdiri di samping gw. Sedikit keberuntungan dan kegigihan Elka menyeret gw kemari jadi faktor utama terhindar dari hukuman terlambat.
Katanya sih hari ini kita bakal dapat pelatihan hand-to-hand combat. Informasi itu jelas bikin gw penasaran. Semua yang ada di sini kan Ranger, di medan perang kerjaannya nembak-nembak dari jauh, kan? Kenapa pake segala dapat pelatihan kelahi tangan kosong?
Pertanyaan tersebut gw simpan dalam hati, ga berani bertanya karena di depan kami udah berdiri instruktur yang terkenal kejam di Korporasi. Rumornya sih Punisher Accretia pernah dipretelin olehnya pake … tangan kosong! Hee … lebay, dan gw kurang percaya.
“Ensign-Ensign menjijikan.” Kalimat itulah yang pertama keluar dari mulut pria botak itu, setelah ia berjalan dari arah kiri barisan menuju ke kanan, terus balik ke tengah sambil pandangi para Ranger Ensign di barisan depan satu per satu. “Kalian pikir, kalian pantas jadi Ranger? HAH?!”
“Keterlaluan! Federasi pasti sudah gila, putus asa sampe-sampe menerima cacing macam kalian untuk terjun ke medan perang! Apa kualitas prajurit selama 10 tahun terakhir terus menurun?!” Si botak terus aja ngomel, teriak-teriak di depan kami, ga ada abisnya menghina. Ugh, benar-benar kami dianggap cacing.
“Nama saya Borr. Infiltrator, Conquest Borr Roggenfellen. Ingatlah baik-baik nama saya karena siapa tau inilah saat terakhir kita akan bertemu. Siapa tau kalian akan langsung mati 5 menit setelah melangkah ke Crag Mine! Hahaha.”
“Glekk.” Gw dan Ranger lain cuma bisa telan ludah dengar kata-kata si botak. Gw lirik ke Elka, ekspresi wajahnya agak tegang, tapi tetap menyeringai dengan tatapan mata membara. Tandanya dia sangat tertarik dengan pelatihan ini.
Intinya sih kita diinstruksikan untuk sparing, 1 on 1. Abis dapat peragaan teknik-teknik dasar tarung tangan kosong dari si botak, masing-masing kita disuruh berhadapan untuk praktekkan teknik-teknik tersebut.
Jadilah sekarang gw berhadapan dengan Alecto. Dia teman seangkatan gw, kenal pas pendidikan. Gw pasang kuda-kuda, dan dengan segenap tenaga luncurkan kepalan tangan kanan ke mukanya.
“Haaah! Lu makan nih!” Di saat yakin banget bisa ratakan mukanya, ternyata dia miringkan kepala ke kanan, tipis banget, tinju gw cuma nyerempet rambut berwarna denimnya.
Setelah menghindar, dia langsung maju mendekat ke posisi gw. Uh, mati … cepat banget! Lututnya udah sukses mendarat di perut gw sebelum sadar apa yang terjadi.
“Uhhueek!” Reflek, gw bungkuk tahan sakit. Yak, selanjutnya upper cut! Tepat di dagu! “Pfffuug!”
Seakan belum puas, satu lengannya udah melingkar di bahu gw, dan kakinya sigap jegal kedua kaki gw dari belakang. “Dooohhh!” Akhirnya, gw pun menatap langit.
“Ampun deh… kok lu masih aja cupu gini sih? Hahaha.” Dia meledek, sembari ulurkan tangan kekar beruratnya, buat bantu berdiri.
“Bangke. Tenaga lu terlalu berlebihan, Kuya. Heran, napsu amat mukulin gw sih.”
“Maap, maap, haha terbawa suasana,” enak benar. ‘Terbawa suasana’ dia kata? “tapi kayanya yang lain ga ada yang serius ya latiannya.”
Setelah dibantu berdiri, gw sedikit bersihkan armor yang agak kotor akibat bantingan tadi, “Iyalah, secara … Ranger kan pake busur dan senjata api. Ngapain repot-repot berantem tangan kosong?”
Dengar pertanyaan tersebut, dia dongak ke langit seraya berkata, “Entah ya, tapi menurut gw sih … karena ga ada yang bisa prediksi apa yang bakal terjadi saat perang,” Tatapannya sendu, kaya menyembunyikan sesuatu, “Eh, liat tuh …” Kemudian, dia alihkan pandangan pada Ranger perempuan yang lagi bicarakan sesuatu dengan instruktur Bot- ehem… Borr. “Hash’Kafil cantik-cantik ngeri ya, haha.”
Err… Asli ga penting.
Emang sih, ga salah juga. Hash’Kafil tipe perempuan yang jarang bicara, senyum juga jarang. Rambut hitamnya dicepol, dengan sepasang mata yang senada rambut dengan tatapan agak sayu mengundang. Tapi jangan kira dia lemah, dia calon Ranger terkuat kedua … setelah Elka.
“Ajak sparing aah~” Kata Alecto sambil nyengir.
Gw sih geleng-geleng aja liat kelakuan anak itu, “Lu mah orang lagi adem, malah dipanasin. Gw ga ikutan ah.”
“Yo, Hash.”
“… Lu menghalangi jalan. Bisa minggir?” Salam Alecto dibalas ketus oleh perempuan berambut hitam tersebut. Udah gitu, balas menatap lawan bicara pun enggak.
“Duh galaknya. Lagi kepanasan? Eh, Si Lake nantang lu sparing tuh.”
Ka-kampreett! Kenapa nama gw dibawa-bawa?! Udah gw bilang, ogah ngomporin hewan buas, masih aja! Gw liat mata Hash melirik lelaki kerempeng ini yang berdiri sekitar 3 meter di sebelah kanannya tanpa tolehkan kepala. Ugh… lirikannya … boro-boro menarik hati, malah justru membelah sanubari.
“Ga ada waktu… buat ladeni permainan anak kecil.”
Lagi-lagi jawaban ketus yang keluar dari bibir tipisnya. Fyuuh, entah kenapa baru kali ini gw merasa lega ada orang yang segitu ketusnya menolak tawaran orang lain.
Tapi, belum jauh Hash’Kafil melangkah, Alecto, si bocah sableng bilang, “Oi Lake, ga jadi. Dia takut katanya!” setengah teriak, ke gw! Shiiite! Hash’Kafil yang tadinya udah menjauh, langsung balik badan, dan jalan kemari.
Forcenya pekat, napsu pengen bunuh. Tanpa ba-bi-bu, Hash langsung kepalkan kedua tangan, pasang kuda-kuda. Kepala sedikit menunduk, tapi mata tetap fokus ke depan… ke gw. Kalo udah begini mau ga mau, ya ladeni juga. Makasih Alecto, MAKASIH BANYAK!
“Umm… Hash, sumpah demi apapun gw sama sekali ga niat sparing lawan lu. Ini semua kerjaan Alecto.”
“…”
Ga dengar ada respon, gw manggil lagi, “Hash?”
“Bawel. Maju sini,” ugh. Sinis amat.
Masih sedikit ragu, setengah hati gw menerjang. Hash’Kafil masih tetap ga bergerak. Pas jarak gw udah dekat, dia lancarkan tendangan yang benar-benar kuat ke tulang kering gw!
“Addd-duhh, duhh, duhh!” Gw langsung terduduk meremas tulang kering. Sakit banget! Ini perempuan kok bisa-bisanya menendang titik vital di kaki pas gw lagi lari!?
Gw coba bangkit setelah kena serangan ga terduga barusan. Tapi Hash udah berdiri tepat di belakang. Satu tangan pegang dagu gw, terus lagi-lagi satu tendangan kuat menghantam tumpuan pijak kedua kaki. Di saat bersamaan, tangannya yang di dagu menarik gw ke belakang.
Akhirnya, gw terpelanting. Sebelum ketemu daratan, badan gw berputar sekali di udara. Posisi sekarang: Pantat di atas, tengkuk di bawah.
“Untuk ukuran lelaki, lu terlalu gampang dijatuhkan,” Hash berkata, sambil memandang rendah gw yang masih asik di posisi pantat di atas ini. Sedangkan Alecto? Itu anak cuma nyengir kuda liat gw dipermalukan.
“Haha, yup. Terlalu gampang jatuh. Kayak bukan tentara. Masa harus diajarin sih?”
“Oh, jadi lu mau coba juga?” Kali ini, tatapan sinis Hash’Kafil pindah ke Alecto.
“Hah?! Ehm, ga usah deh. Lain kali aja kali ya,” cah sableng mendadak panik pas dapat tantangan. Ga boleh gw sia-siakan, kesempatan emas buat balas dendam! Muahahaha!
Masih belum berganti posisi, gw langsung inisiatip panaskan situasi, “Ya, Ensign Alecto, tolong ajari saya supaya bisa jadi tentara yang baik,” diiringi senyum iblis penuh kepuasan menghias wajah.
“Huff… i-iya deh, iya,” Asik. Gw sigap berdiri, pengen nonton dari sudut terbaik. Teknik yang dipake Hash’Kafil tadi luar biasa. Biar gimana pun, sebenarnya tenaga perempuan ga akan pernah lebih kuat dari lelaki.
Ga peduli seberapa sering perempuan latian, aturan alam itu ga bisa diganggu gugat. Gw akui, tendangannya yang kena tulang kering amat bertenaga. Dibanding yang kedua, rasanya lemah, tapi tepat kena di titik tumpu kaki.
“Ehem, gw bukan Lake lho, yang gampang digulingkan,” tsk. Banyak gaya lu, Kuya, “gw ga akan segan nih.”
“Bawel. Maju sini.”
5 detik kemudian, Alecto, pemuda berotot yang katanya ga gampang digulingkan, udah berada di tanah. Posisi: Pantat di atas tengkuk di bawah.
Makan deh tuh tentara yang baik. Niatnya sok keren, ternyata pake cara yang persis sama, belum juga 10 detik udah nyusruk.
“Teknik yang hebat,” puji gw pada Hash, “Belajar dari siapa?”
“Saudara gw,” jawab Hash pendek.
“Hmm… bagus. Gw harap kedepannya, kita bisa berteman ya.”
“… Tujuan gw gabung Ranger Corps bukan buat ketemu teman baru,” Hash balas kata-kata gw. Nada bicaranya dingin, “apa lagi teman baru itu, orang-orang lemah kaya lu berdua,” lanjutnya ketus.
Wow. Ga cuma bisa beladiri, tapi juga pandai bersilat lidah. Kata-katanya begitu tinggi, dan menghina. Bikin jengkel siapapun yang dengar. “Beuh, sombong amat. Cuma gara-gara lu bisa jatuhkan gw pas sparing, udah merasa jadi jagoan sejagat?” Gw coba buat tahan kekesalan biar ga tambah perkara, “fokus pada tujuan sih boleh aja, tapi setidaknya santai dikitlah. Ada hal lain, selain tujuan yang lu kejar.”
Aduh, gw dan mulut besar gw. Harusnya kalimat-kalimat tadi ga keluar begitu aja. Nyerocos tanpa mikir akibat, hasilnya? Hash’Kafil langsung melakukan tackle keras ke arah perut. Gw jatuh… grrr… lagi. Perempuan itu menindih tubuh gw, kunci kedua tangan, dan bersiap luncurkan pukulan.
“He-hey, Hash! Stop!” Alecto pengen hentikan Hash’Kafil, padahal sebenarnya mah ga berani.
Tinjunya melayang ke muka gw, “Aih … rata deh.” Itulah yang ada di pikiran gw pas tutup mata dan tebalkan otot muka, guna tahan sakit pukulannya.
Namun, setelah beberapa saat, ga ada satu hantaman pun terasa. Pelan-pelan, gw beranikan buka mata. Seinci. Kira-kira segitulah jarak yang pisahkan wajah gw dengan kepalan tangan Hash.
“Lu… ngerti apa tentang tujuan? Tujuan gw?” Dengan kesal, dia bertanya. Kali ini nada bicaranya begitu rendah dan dalam, “semua yang berangkat ke Novus pasti punya ambisi serta tujuan yang ingin dicapai, gimanapun caranya. Bagi gw, tujuan tersebut merupakan satu bukti nyata kalo gw masih semangat, terus berjuang jalani hidup. Dan gw ga akan bisa santai, sebelum sampai di sana!” kata-kata itu deras keluar dari mulutnya. Bola mata hitam itu terlihat berapi-api, “sekarang gw tanya, Lake Grymnystre … apa tujuan yang lu perjuangkan?”
Pertanyaan yang bikin gw terdiam. Tujuan yang gw perjuangkan … apa? Gw ga tau tujuan pas daftar di Ranger Corps? Gw ga tau buat apa jalani pendidikan militer selama ini. Atau sebenarnya punya, tapi sekedar lupa? Segitu rendahkah tujuan itu, sampe gw sendiri lupa begitu aja?
Di tengah kebimbangan, tiba-tiba gw liat Elka mendekat. Tampangnya seram, dia menatap Hash’Kafil yang masih menodong gw dengan tinjunya. Ternyata, Elka udah perhatikan ke arah sini sejak Hash’Kafil melakukan tackle. Gawat… bisa perang galaksi ini sih.
Elka berdiri sangat dekat dengan kami. Menatap ke bawah, di mana kami masih saling tindih. Ga ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, dia menatap Hash’Kafil dengan mata predator.
“Heyy Ka, gw ga apa-apa kok! Ini cuma lagi sparing biasa, hehe.” Gw berusaha yakinkan Elka kalo keadaan sebenarnya ga seperti yang dia liat. Di lain pihak, terjadi sesuatu ga terduga.
Hash … tersenyum kecil. Mukanya terlihat tegang sih, tapi maksa menyeringai seraya berkata, “Menarik… oke, kalo itu mau lu,” seolah dia tau apa yang dingiinkan Elka. Wew, semacam insting hewan buas kali ya, bisa saling paham gitu tanpa ngomong apa-apa?
“Weii, weii, lu jangan perkeruh suasana dong.” Bisik gw pada Hash.
Dia membalas, “… Cuma mau coba, teknik gw ampuh ga … buat lawan monster?” sambil lepas kunciannya dari tangan gw, dan berdiri menghadap Elka.
“Emang lu bukan monster?!” Gerutu gw dalam hati
Ga ada lagi yang bisa gw lakukan untuk hentikan mereka, selain jadi penonton. Penonton sparing antara 2 monster Ranger Ensign, Elka Nordo vs Hash’kafil Ilkash. Namun pikiran gw ga fokus. Terganggu oleh satu hal yang terus terngiang di benak gw. Apa yang harus gw perjuangkan? Kenapa gw ada di sini?
CHAPTER 1 END.
Read Chapter 2
https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-2/
List of Lake Chapter:
https://www.pejuangnovus.com/lake-list
Catatan Author:
Halo Internet! Selamat datang di fiksi Lake. Ada beberapa hal yang akan saya sampaikan sebelum anda membaca lebih jauh, yaitu: saya menulis author’s note ini di 2016, lol. Saya ingin menyampaikan bahwa walaupun ini fanfiksi RF Online, cerita ini cenderung mengabaikan banyak banget mekanisme dari game RFO. Ada beberapa detail dan konsep orisinil yang saya tambahkan di sana-sini agar cerita ini ga terlalu kaku, dan ga cuma pecinta game RFO yang bisa menikmatinya. Ya, saya pengen membuat cerita yang reader friendly. Supaya bisa menyentuh pembaca yang cuma main RF sebentar, atau bahkan ga main RF sama sekali. Ya, harapan saya, para potensial reader ga harus main RFO atau paham bagaimana background lore RFO untuk menikmati cerita dari saya.
Kalian akan menemukan author’s note yang berisi penjelasan tentang konsep-konsep apa yang saya tambahkan, atau mekanisme apa yang saya hilangkan, dan gimana cara kerja semesta cerita ini. Maka sebelumnya, mohon maaf bila kurang berkenan di mata para pecinta RF sejati. Juga, pada 2014 saya menerbitkan cerita ini tanpa pikir panjang. Penggunaan kata yang disingkat adalah karena saya mengetik di HP, ahaha. Jadi kebiasaan nulis sms kebawa deh. Dan juga maaf bila ada penulisan yang kiranya kurang enak dibaca. Di tengah penulisan chapter yang tengah berjalan, saya sekalian memperbaiki penulisan chapter-chapter awal sedikit demi sedikit supaya jadi lebih baik.
Cerita ini mengandung banyak referensi dari hal-yang saya suka. Mulai dari game, acara televisi, anime, kartun, novel, musik, komik, manga, dll. Contohnya, di chapter ini adalah referensi dari adegan anime Shingeki no Kyojin. Saya adalah penggemar berat anime/manga itu, terutama Mikasa. Ohhhh yeeaah! Mikasa fanboy garis keras! Kalo anda tau referensi-referensi lainnya di cerita ini, berarti kita satu selera! Haha. Adapun inspirasi dari cerita ini, saya jelaskan secara lengkap di author’s note chapter 18. Oke, sekian dari saya. Silahkan lanjut membaca!
Regards,
Mie Rebus.